SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Wednesday, 24 10 2018 October 2018 >

Diterbitkan :
Kategori : ARTIKEL & KAJIAN ISLAM
Komentar : 0 komentar

Pemberian hadiah, dalam bentuk uang lelah, angpao, uang masuk, atau biasa disebut uang tip, kepada para pegawai negara, sudah dianggap suatu hal yang lumrah dalam kehidupan masyarakat kita saat ini. Apalagi dalam birokrasi pemerintahan.

Bahkan beberapa kalangan menganjurkan. Karena menurut mereka, memberikan uang semacam ini termasuk saling memberi hadiah yang dianjurkan dalam Islam. Mereka  berdalih “Ini pemberian suka rela”, “ikhlas”, “tanpa pamrih”, “rasa simpatik”, “uang terima kasih ” dst.

Benarkah demikian?  Bagaimana pandangan Islam mengenai persoalan ini? Mari kita simak pemaparannya.

Pembaca yang dirahmati Allah, pada asalnya Islam memang menganjurkan untuk saling memberi hadiah. Namun, pemberian hadiahpun ternyata ada kriteriannya, yang membedakannya dengan suap. Saat hadiah diberikan untuk kepentingan personal, kelompok, organisasi dll, demi merealisasikan tujuan yang tidak dibenarkan oleh syari’at, maka ‘hadiah’ menjadi terlarang hukumnya. Pada kondisi ini, pemberian bukan lagi disebut hadiah, melainkan sudah masuk dalam ranah suap (risywah) yang disinggung dalam sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

لَعَنَ اللَّهِ الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

Allah melaknat penyuap dan orang yang menerima suap.” (HR. Abu Dawud no. 3580 dan Tirmidzi no. 1334)

Menakutkan bukan?! Allah sampai melaknat orang yang memberi dan menerima hal-hal semacam ini. Oleh karenanya permasalahan seperti ini harus dijelaskan, agar masyarakat menyadari dan berpikir ulang untuk melakukannya. Karena dampaknya negatif dari praktik gratifikasi amat besar, bagi kesejahteraan suatu negara.

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdulhalim al Harroni menerangkan,

ولهذا قال العلماء: إن من أهدى هدية لولى أمر ليفعل معه ما لا يجوز،  كان حراما على المهدى والمهدى إليه. وهذه من الرشوة التي قال فيها النبي: لَعَنَ اللَّهِ الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

“Oleh karenanya, para ulama menjelaskan, siapa yang memberi hadiah kepada pihak yang berwenang, dengan tujuan supaya dia (yang diberi hadiah, pent.) menuruti keinginannya, maka dalam kondisi ini, hadiah diharamkan atas yang memberi dan yang menerima. Inilah risywah yang disinggung dalam sabda Nabi, “Allah melaknat penyuap dan orang yang menerima suap” (Majmu’ Fatawa, 31/161)

Meski dikemas dengan kata-kata manis, seperti “ini pemberian suka rela”, “ikhlas”, “tanpa pamrih”,parsel lebaran dst, namun hakikat tak bisa dibohongi oleh nama.

Sebenarnya tak ada masalah bila memang niatnya jujur untuk memberi hadiah. Karena Islam menganjurkan untuk saling memberi hadiah dalam rangka memupuk rasa persaudaraan dan kasih sayang. Akan tetapi dalam kasus pemberian uang tip dan yang semisalnya, apakah benar Si Pemberi benar-benar tulus memberikan hadiah tanpa kepentingan lain atau tujuan tereselubung?

Mari kita uji bersama…

Anggap saja posisi Anda sebagai seorang yang duduk di kursi jabatan birokrasi pemerintahan. Pertanyaannya adalah  apakah para para pemberi  tersebut akan tetap memberikan hadiah saat Anda sudah pensiun?! Apakah mereka akan tetap menghubungi Anda, atau mengirim beberapa paket hadiah atau sejumlah uang, saat Anda tidak lagi duduk di kursi jabatan yang memiliki wewenang untuk memberi izin proyek atau lainnya, seperti saat ini?!

Bila jawabannya tidak, berarti pemberian tersebut dilakukan bukan untuk memberi hadiah; sebagaimana yang dianjurkan dalam Islam. Melainkan sudah termasuk kategori suap atau suap.

Dalam sabdanya, Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah mengingatkan kita,

مَنْ شَفَعَ لِأَخِيهِ شَفَاعَةً, فَأَهْدَى لَهُ هَدِيَّةً, فَقَبِلَهَا, فَقَدْ أَتَى بَابًا عَظِيماً مِنْ أَبْوَابِ اَلرِّبَا

Barangsiapa memberi syafa’at (menjadi perantara untuk suatu kepentingan) kepada saudaranya, kemudian ia diberi hadiah lalu ia menerimanya, maka dia telah membuka satu pintu besar dari pintu-pintu riba.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dari Abu Umamah. Dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Shohihah no. 3465)

Ibnu Mas’ud saat ditanya tentang makna as-suht dalam surat Al-Maidah ayat 62, beliau menjawab,

هو أن تشفع لأخيك شفاعة فيهدي لك هدية فتقبلها

Makna as-suht (risywah) adalah, engkau memberikan syafa’at atau perantara untuk memuluskan kepentingan saudaramu. Lalu ia memberimu hadiah. Lalu kamu terima hadiah tersebut. (Majmu’ Fatawa, 31/161).

Lebih jelasnya, simak hadis berikut. Sebuah hadis dari Abu Hamid As Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengangkat salah seorang dari suku Azad untuk bertugas mengambil zakat dari Bani Sulaim. Orang-orang biasa memanggilnya Ibnul Lutbiah. Ketika datang, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menghitung hasil zakat yang dikumpulkannya.

Ia (Ibnu Lutbiah) berkata,”Ini harta kalian, dan ini hadiah,”

Melihat perilaku Ibnu Lutbiah yang, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun menasehatkan: “Kalau engkau benar, mengapa engkau tidak duduk saja di rumah ayah atau ibumu, sampai hadiah itu mendatangimu?

Setelah memanjatkan pujian kepada Allah azza wa jalla, Nabipun berkhutbah, “Aku telah menugaskan seseorang dari kalian sebuah pekerjaan yang Allah azza wa Jalla telah pertanggungjawakan kepadaku. Lalu ia datang dan berkata “yang ini harta kalian, sedangkan yang ini hadiah untukku”. Jika dia benar, mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, kalau benar hadiah itu mendatanginya. Demi Allah , tidak boleh salah seorang kalian mengambilnya tanpa hak, kecuali dia bertemu dengan Allah dengan membawa unta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik”.

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau, hingga tampak ketiak beliau, seraya bersabda “Ya Allah, telah aku sampaikan”. Sang Perawi berkata, ”Aku Lihat langsung dengan kedua mataku, dan aku dengar dengan kedua telingaku.” (HR Bukhari, 6979 dan Mustim, 1832).

Hadiah yang diterima oleh Ibu Lutbiah, statusnya sebagai gaji tambahan di luar gaji resmi dari pemerintah. Ia mendapatkan teguran keras dari Nabi karena ia menerima pemberian tersebut. Sama halnya dengan uang tip dan yang semisalnya; yang kita kenal saat ini, ia merupakan gaji tambahan di luar gaji yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dari pemberian tersebutlah para penyogok berusaha mengambil hati pihak berwenang. Agar berpihak pada kepentingan-kepentingan mereka.

Fatwa Ulama Perihal Uang Tip atau yang Semisalnya

Sebuah pertanyaan diajukan kepada Lajnah Daimah Saudi Arabia (Komite riset ilmiyah dan fatwa, Kerajaan Saudi Arabia) :

” Saya bekerja sebagai kepala sekolah, yang mengepalai beberapa sekolahan di salah satu distrik, propinsi Madinah al-Munawwarah. Persoalan yang ingin saya tanyakan adalah, penduduk distrik ini adalah kalangan badui dari salah satu kabilah arab, yang dikenal dengan kedermawannya. Mereka sering  mengundang saya untuk makan siang atau makan malam.

Jika saya menolak undangan tersebut, mereka datang ke rumah membawakan daging sembelihan. Mereka bilang, “Ini untuk makan Anda dan guru-guru lainnya“. Saya khawatir bila pemberian ini termasuk dari risywah/suap. Melihat orang-orang yang mengundangku, dari kalangan wali murid dan karyawan yang menyopir bis sekolah. Dikhawatirkan terselebung maksud untuk mendekatiku. Melihat posisiku sebagai kepala sekolah. Sebagian yang lain ada yang tidak ada hubungan sedikitpun dengan madrasah.

Apakah saya harus menolak undangan atau pemberian tersebut? Karena saya merasa tidak nyaman dengan pemberian tersebut.

Jawaban:

Tidak dibolehkan bagi seorang pegawai,  untuk menerima hadiah atau pemberian dari orang yang memberikan hadiah kepadanya. Kepala sekolah misalnya, dia tidak dibolehkan untuk menerima hadiah dari siswa-siswinya atau wali murid. Karena pemberian seperti itu, termasuk bagian dari ghulul (khianat) yang haram hukumnya. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu’alaihi wasallambersabda,

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

Hadiah untuk pegawai termasuk ghulul (pengkhianatan).”

Alasannya dikarenakan menerima pemberian tersebut, akan menjadikan seorang berat sebelah dalam memberikan pelayanan atau keputusan. ” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 23/581-582)

Di kesempatan lain, lajnah daimah, mengeluarkan fatwa yang sama, “Memberikan hadiah kepada bapak atau ibu guru di sekolah-sekolah, baik yang negeri maupun swasta, adalah termasuk bagian dari risywah. Maka tidak boleh memberikan (bagi pemberi) dan mengambil (bagi yang menerima) hadiah tersebut. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah melarang untuk mengambil hadayah al-‘ummal (Hadiah untuk pegawai).” (Fatawa lajnah da-imah 23/582-583)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya dengan pertanyaan yang sama. Berikut ini jawab beliau,

“Seorang guru tidak boleh menerima hadiyah dari siswanya. Karena pemberian tersebut masuk dalam keumuman hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya,

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

Hadiah untuk pegawai termasuk ghulul (pengkhianatan).”

Bila bertambah kecintaannya kepada murid yang memberi hadiah itu, dikhawatirkan dia akan berat sebelah. Oleh karenanya, dia harus menolak pemberian tersebut.” (Liqo’ al-Bab Al-maftuh16/225)

Demikian yang bisa kami sampaikan. Semoga bermanfaat untuk kita bersama; yang menginginkan negeri ini bersih dari segala macam praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

wallahu’alam bis showab. 

***

Daftar Pustaka
  • Majmu’ah al Fatawa li Syaikhil Islam Taqiyyuddin Ahmad bin Taimiyyah al harroni. Terbitan: Dar al Wafa’ & Dar Ibnu Hazm. Cetakan ke 4, th 1432 H.
  • Fatwa Lajnah Da-imah dan Fatwa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin di atas diambil dari situsislamqa.info: http://islamqa.info/ar/139393

**

Madinah Islamic University, asrama unit 8.
5 Jumadal Ula 1436 H.

Penulis : Ahmad Anshori
Artikel : Muslim.Or.Id

SebelumnyaWajah Ceria Saat Bertemu Suami SesudahnyaHadits Lemah: Anjuran Memandang Wanita Cantik
TAHSIN KHUSUS RAMADHAN 1439 TAHSIN KHUSUS RAMADHAN 1439
TAHSIN KHUSUS RAMADHAN KHUSUS PRIA/IKHWAN TAHSIN KHUSUS RAMADHAN Program belajar membaca Alquran untuk pemula kembali dibuka khusus kelas Ramadhan di Masjid Raudhatul Jannah Islamic Center Pekanbaru Pilihan Hari : Senin...


TINGGALKAN KOMENTAR