Berita Terkini

Tag Archives: MASJID SUNNAH

DAUROH USTADZ Dr. ALI MUSRI SEMJAN PUTRA, MA

brosur terbaru copy

PENDALAMAN MAKNA SURAT AL-MA’UN

Pendalaman Makna Surat Al Ma’un

Kata الْمَاعُونَ dalam terjemahan umumnya diartikan barang-barang yang berguna, maka selalu diartikan sebagai benda-benda berharga semisal uang, emas dan sejenisnya, padahal sesungguhnya makna sebenarnya adalah barang-barang berguna untuk keperluan rumah tangga. Seperti pisau dapur, panci, jarum dan sejenisnya.

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيم
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾

1. Diawali أَرَأَيْتَ terdiri dari tiga kata, أ apakah, َرَأَيْ melihat dan ْتَ kamu. الَّذِي yang, يُكَذِّبُ mendustakan, بِالدِّينِ terdiri dari dua kata, ب dengan dan دِّينِ hari pembalasan. Ada juga yang mengartikan agama.

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾

2. Kata فَذَٰلِكَ terdiri dua kata ف maka dan ذَٰلِكَ itu, الَّذِي orang yang, يَدُعُّ arti sebenarnya mendorong dengan keras yang lebih dekat dengab meyakiti secara fisik, الْيَتِيمَ anak yatim.

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣﴾

3. Kata وَلَا dan tidak, يَحُضُّ menganjurkan atau mengajak, عَلَىٰ atas, طَعَامِ makanan artinya memberi makan, الْمِسْكِينِ orang miskin.
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾

4. Diawali فَوَيْلٌ maka celakalah, لِّلْمُصَلِّينَ , terdiri dari dua kata, ل untuk dan لْمُصَلِّينَ orang yang sholat.

الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ 

5. Orang yang الَّذِينَ, kemudian هُمْ mereka, عَن dari, صَلَاتِهِمْ sholat mereka, سَاهُونَ orang-orang yang lalai atau tak peduli. Termasuk yang menunda-nunda sholat.

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ﴿٦﴾

6. Kata الَّذِينَ orang yang, هُمْ mereka,يُرَاءُونَ orang-orang yang riya.
☡ Waspada, jangan sampai ada perbedaan mencolok bacaan saat sholat dengan bacaan pelan atau siir dengan saat bacaan kuat. Jika berbeda, bisa jadi merupakan pertanda adanya riya di hati kita.

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ﴿﴾٧ 

7. Diawali وَيَمْنَعُونَ dan mereka menghalangi, الْمَاعُونَ alat-alat rumah tangga (untuk dimanfaatkan atau dilinjamkan orang lain).*

✳ Taklim Ust Maududi Abdullah, Lc di Masjid RJ, Selasa 22 Robiul Akhir 1439/ 9 Januari 2018

➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖

Pendalaman Makna Surat AL-KAUTSAR

Pendalam Makna سُوْرَةُ الكَوْثَرِ

Ustadz Maududi Abdullah, Lc
Masjid Raudhatul Jannah
Selasa 1 Robiul Akhir 1439/ 19 Desember 2017.
✍✍✍✍✍✍✍✍ ﷽

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
Seaungguhnya kami memberimu Al Kawtsar

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Maka sholatlah dan menyembelilhlahlah

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus

1. Diawali إِنَّا berarti sesungguhnya kami, أَعْطَيْنَاكَ terdiri dari tiga kata, yaitu أَعْطَي memberi, نَا kami dan كَ kamu, الْكَوْثَرَ nama salah satu sungai di surga.
– Sebagian ulama mengartikan الْكَوْثَرَ kebaikan-kebaikan. Hal itu dikarenakan di sungai الْكَوْثَرَ di dalam surga terdapat banyak kebaikan.

2. Kata فَصَلِّ terdiri dari dua suku kata, ف maka dan َصَلِّ sholatlah, demikian juga dengan لِرَبِّكَ terdiri dari tiga kata, ل untuk, رَبِّ Tuhan, ِّكَ kamu, وَانْحَرْ dan menyembelihlah.
– Ini perintah tegas agar hanya mendirikan sholat semata karena Allah. Iklas. Tidak boleh sholat dengan alasan apapun, selain untuk Allah.

❎ Seperti sholat demi pujian mahluk atau sholat demi mempertahankan ilmu kebal dan lain sebagaianya.

3. Kata إِنَّ sesungguhnya, شَانِئَك terdiri dari dua kata, شَانِئ orang yang membenci dan ك َ kamu, هُوَ dia, الْأَبْتَرُ terputus.

– Orang kafir Quraisy menyebut Nabi Muhammad الْأَبْتَرُ, seperti Abu Jahal dan paman Nabi Abu Lahab. Karena itu, lewat ayat ini Allah membantah sebutan tersebut.
– Terputus oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai tak tersambung dengan kebaikan. Sebagian lagi mentafsirkan bahwa terputus berarti setelah mati tak dibicarakan orang lagi.

Catatan:
✔ Mengenai Al Kawtsar Rosul menjelaskan:
فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ

“Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah melakukan amalan baru sesudahmu.” (HR. Muslim, no. 400).

– Sebagian riwayat menyebutkan Sungai Al Kawtsar yang mengaliri air ke Telaga Nabi pada hari kebangkitan. Di telaga inilah umat Nabi Muhammad akan diberi minum. Begitu minum air Telaga Nabi maka hilang dahaga selamanya.
– Sebagaimana pada akhir hadist di atas juga dikabarkan, akan ada umat Nabi yang akan diusir dari Telaga Nabi. Dijelaskan, mereka adalah yang berwudhu dan sholat, namun juga mengerjakan amalan yang baru. Amal yang tidak dicontohkan atau diperintahkan Nabi Muhammad. Bid’ah!*

Kiat dan Langkah-langkah Meraih Cinta Allah

Kiat dan Langkah-langkah Meraih Cinta Allah

❤❤❤❤❤❤❤❤

Ustadz : Ahmad Doni

Masdjid Raudhatul Jannah

4 Robiul Akhir 1439/ 21 Desember 2017

✔Al Imam Ibnu Qoyim Al Jauziyah dalam Kitab Madarijus Salikin menyebut sejumlah sebab hamba mendapatkan cinta Allah. Antara lain:

1. Membaca Al Qur’an dengan mengetahui dan memahami makna yang terkandung di dalamnya.

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.(Shaad 29)

– Selain itu, teramat besar fadilah membaca Al Qur’an. Salah satunya adalah 10 pahala untuk setial huruf. Sulit mengira dengan pasti berapa besar pahala membaca satu lembar Al Qur’an. Terlebih lagi jika satu juz atau lebih.

2. Memperbanyak ibadah sunnah setelah ibadah wajib.
– Usai sholat 5 waktu, lengkapi dengan sholat-sholat sunnah.
-Usai puasa Ramadhan, perbanyak puasa sunnah.
– Usai membayar zakat wajib, lanjutkan dengan zakat sunnah seperti sedekah dan sejenisnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku semakin mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.”.

3. Mengingat Allah dalam kondisi apapun dan di manapun.
– Berdzikir dalam bentuk apapun adalah merupakan bukti selalu mengingat Allah. Situasi yang harus dijaga dan selalu ada pada diri kita. Setiap saat. Cara terbaik adalah dengan membaca doa-doa yang diajarkan Rosul untuk setial kegiatan. Seperti doa hendak tidur atau bangun tidur.
– Semakin banyak mengingat Allah, maka semakin banyak kita diingat Allah.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al Baqarah: 152).

4. Memdahulukan Allah dari hawa nafsu.
– Ukuran kecintaan kita pada Allah ketika semua yang kita lakukan selalu ditimbang dengan keridhoan Allah.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. (An Naziat 40)

– Kecintaan pada Allah menjadi pembatas kuat kita dari mengerjakan apapun yang tak diridhoi-Nya.*

Kabar Gembira Allah untuk Pelaku Maksiat

Kabar Gembira Allah untuk Pelaku Maksiat

Taklim Ustadz :
Ade Agustian, Lc

Masjid Raudhatul Jannah,

Sabtu 29 Robiul Awal 1439/16 Desember 2017.
➖➖➖➖➖➖➖

✔ manusia mustahil suci dari hilaf. Siapapun dia, selain nabi pasti punya kecenderungan berbuat salah. Mereka yang Allah tolong, terlindunglah dia dari maksiat. Sementara mereka yang dibiarkan Allah, akan dihelincirkan syetan untuk memperturutkan hawa nafsu.

Jangankan kita, umat Nabi Muhammad yang jauh dari kemuliaan, sejumlah sahabat mulia pun tak luput dari perbuatan maksiat. Melakukan dosa. Bukan sekedar kecil, tapi dosa besar, seperti zina.

Bukankah ada riwayat mengenai seorang sahabiyah yang datang pada nabi dan mengaku tengah mengandung anak hasil zina. Juga seperti kisah seorang pemuda dalam hadist shahih Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud.

Suatu hari pemuda tersebut menemui Rosulullah dan mengakui dirinya telah mencumbui seorang wanita. Melakukan semua perbuatan nista dengan wanita tersebut, selain zina. Kepada Rosul pemuda tersebut minta diberi saran atas dosa besar yang telah dilakukannya.

Atas pertanyaan tersebut Rosul tak langsung menjawab, bahkan sempat memerintahka pemuda tersebut pergi dulu, sampai akhirnya Allah menurunkan ayat Surat Hud 114:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

↔ Dalam ayat tersebut Allah memberi kabar gembira kepada para pelaku maksiat. Mereka tak perlu putus asa. Ada cara terbaik menghapuskan dosa-dosa. Yaitu dengan memperbanyak amal sholeh. Terutama sholat 5 waktu dan Sholat Jumat yang merupakan ibadah terbaik sebagai penghapus dosa.
الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).

✔ Dari kisah pemuda mulia tersebut ada pelajaran penting bagi siapapun yang terjeremus kemaksiatan, yaitu merasa resah dan khawatir atas kemaksiatan yang telah dilakukan. Merasa menyesal, lalu minta nasehat pada orang berilmu dan sholeh.
– Juga harus diperhatikan, jangan menceritakan keburukan diri sendiri pada sembarang orang. Hanya jika sangat perlu dan hanya pada orang yang bisa menjaga rahasia. Sebab, menjaga aib diri juga wajib.

❎ Kabar gembira dari Allah ini tidak berlaku bagi pelaku maksiat yang tidak menghentikannya. Juga Tidak berlaku bagi mereka yang justru bangga dengan kemaksiatannya. Pasti percuma bagi yang tak pernah menyesali kesalahan dan dosanya.*

|KITAB MINHAJUL MUSLIMIN|Adab anak kepada orangtuanya

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kajian rutin Senin Malam,
Senin 23 Rabi’ul Awal 1439 H / 11 Desember 2017. ⏰ Waktu ba’da Maghrib – selesai.
Bersama Ustadz Asror Habibi, Lc حفظه الله تعلى
Tempat : Masjid Raudhatul Jannah.

✒ Materi : Pembahasan “Kitab Minhajul Muslim”

Bab : Adab Anak kepada Orantuanya.

Dalam kitab ini, khusuanya bab ini menceritakan tentang begitu mulianya kedudukan orangtua terlebih lagi seorang ibu. Banyak ayat-ayat dan hadits yang mewajibkan kepada seorang anak harus berbakti kepada kedua orangtuanya. Bahkan banyak pula dalam ayat-ayat yang mewajibkan kita memenuhi kewajiban atau Hak-hak Allah Ta’ala (Tauhid atau beribadah semata-mata kepada Allah Ta’ala dan tidak mensyirikan dengan sesuatu apapun) setelahnya dinggandengkan hak yang harus dipenuhi adalah haknya atau berbakti kepada kedua orangtua.

Mengenai wajibnya seorang anak berbakti kepada orang tua, Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam Qur’an :

QS. An-Nisa ayat : 36.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak..” [ An-Nisa : 36]

QS Al-Isra’ ayat : 23-24.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [ Al-Isra : 23]

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil” [ Al-Isra : 24]

Juga terdapat dalam QS. Luqman ayat : 14-15.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali” [ QS. Luqman AYAT : 14]

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik dan ikuti jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu maka Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu kerjakan” [ QS. Luqman ayat : 15]

Berbakti dan taat kepada orang tua terbatas pada perkara yang ma’ruf. Adapun apabila orang tua menyuruh kepada kekafiran, maka tidak boleh taat kepada keduanya. Allah Ta’ala berfirman.

QS. Al-Ankabut ayat : 8

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

“Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya..” [ QS. Al-Ankabut ayat : 8]

Selain kewajiban memenihu hak kedua orantua tadi karena langsung perintah Allah Ta’ala ada perintah tuk berbakti kepada kedua orangtua itu dikarenakan jasa atau jerih payah kedua orangtua tersebut. Seperti jerih payah dan kesusahan ketika seorang ibu melahirkan..menyusui anaknya, perjuangan membesarkan dan sebagainya. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat dan hadits di atas.

Tidak ada suatu kebaikan yangvlebih mulia dan lebih utama selain perintah atau kebaikan yang digandeng Allah Ta’ala dengan perintah akan hak Allah Ta’ala. Dan tidak ada pula suatu keburukan yang lebih buruk dampak dan besar dosanya selain peebuatan yang digandeng Allah Ta’ala dengan perintah larangan-Nya. Tak hanya itu, berbakti kepada kedua orangtua tersebut lebih tinggi dan lebih utama nilainya dan kedudukannya dibanding dengan amalan jihad fisabilillah. Sebagaimana

Hadits diriwayatkan Abdullâh bin `Amr ra :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

“Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullâh, lalu dia minta idzin ikut berjihad. Rasulullâh bertanya: ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Lelaki itu menjawab, “Ya.” Rasulallâh bersabda, “Berjihadlah di sisi keduanya!”

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ibnu Majah, dikatakan bawa seorang lelaki datang kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam, lalu berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّى جِئْتُ أُرِيدُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِى وَجْهَ الله وَالدَّارَ الآخِرَةَ وَلَقَدْ أَتَيْتُ وَإِنَّ وَالِدَىَّ لَيَبْكِيَانِ. قَالَ : فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya datang ingin berjihad bersamamu, mencari wajah Allah dan (surga) di kehidupan akhirat, dan sesungguhnya kedua orangtua saya benar-benar menangis. Beliau Rasulullah SAW menjawab: “Kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka berdua tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.”

Bagi seorang muslim haruslah mengerti dan memahami adab-adab berbakti kepada kedua orangtuanya, yaitu :

Hendaklah seorang anak taat terhadap apa-apa yang diperintahkan orangtuanya kepadanya. Tapi bukanlah ketaat kepada kemungkaran atau kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Jika orangtua menuyuruh melakukan itu maka kita diperintahkan untuk mentaatinya. Meski demikian Allah Ta’ala tetap memeeintahkan kepada kita untuk tetap berbuat baik dan berlemah lembut kepada orangtua tadi.

Selalu memuliakan kedua orangtuanya. Baik dengan ucapan dan perbuatan. Tidak boleh meninggikan suaranya di hadapan kedua orangtuny, mengahardik, membantah atau berlaku dan tidak boleh menampakkan kelebihan pemberian (hadiah dan semisalnya) kepada istri dan anak-anak kita sementara orangtua hanya diberi sekedarnya saja. Kemudian tidak dibenarkan kita memanggil mereka dengan namanya saja. Di sisi lain, ucapkanlah ucapan-ucapan yang baik yang disenangi dan ucapan penuh harapan. Ini merupakan bentuk berbakti dan kemuliaan kepada kedua orangtua kita.

Begitu utama dan mulianya nilai amalan berbakti kepada kedua orantua itu, sampai-sampai Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam berwasiat mewasiatkan hal tersebut kepada sahabat yang mulia Abu Darda’ ra dalam sebuah hadits :
HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18

Abu Darda’ berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan sembilan perkara kepadaku yaitu:

1- Janganlah engkau mempersekutukan Allah meskipun lehermu akan dipenggal atau dirimu akan dibakar.
2- Jangan sekali-kali meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, (karena) barangsiapa yang melakukannya dengan sengaja, niscaya jaminan Allah akan terlepas darinya.
3- Jangan meminum minuman keras, karena itu adalah kunci segala kejelekan.
4- Dan taatilah kedua orang tuamu, apabila mereka menyuruhmu untuk menyerahkan seluruh harta yang engkau miliki maka serahkanlah hartamu kepada keduanya.
5- Janganlah menentang pemimpin walaupun engkau tahu bahwa engkaulah yang benar.
6- Jangan lari dari medan pertempuran, meskipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu melarikan diri.
7- Infakkanlah sebagian harta yang engkau miliki kepada keluargamu.
8- Jangan lalai mengawasi keluargamu (dalam mendidik mereka)
9- Dan ajarkanlah kepada mereka untuk bertakwa kepada Allah.” ( HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18)

Perbanyak perbuatan dan cara yang membuat lapang hidup mereka. Misalnya menyediakan makan-malanan

Menyambung silaturahim dengan karib kerabat mereka(adik kakak orangtua kita), senantiasa mendo’akan mereka dan meminta ampunkan dosa mereka, menuaikan janji-janji mereka dan memuliakan sahabat-sahabat orangtua kita.

Berbakti Kepada Orang Tua Dapat Menghilangkan Kesulitan Yang Sedang Dialami
Yaitu, dengan cara bertawassul dengan amal shalih tersebut. Dalilnya adalah hadits riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, dan salah seorangnya bertawassul dengan bakti kepada ibu bapaknya.

Berbakti Kepada Orang Tua Dapat Menghilangkan Kesulitan Yang Sedang Dialami
Yaitu, dengan cara bertawassul dengan amal shalih tersebut. Dalilnya adalah hadits riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, dan salah seorangnya bertawassul dengan bakti kepada ibu bapaknya.

Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2272), Fathul Baari (IV/449), Muslim (no. 2743), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.

Haditsnya sebagai berikut:

انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيْتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوْهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهَا الْغَارَ. فَقَالُوْا : إِنَّهُ لاَيُنْجِيْكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوْا اللهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اَللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَكُنْتُ أَغْبِقُ قَبْلَ هُمَا أَهْلاً وَ لاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْئٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَ فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوْقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ. فَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْمَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هَذِه الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا

“ …Pada suatu hari tiga orang dari ummat sebelum kalian sedang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka berada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi mulut gua. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.’ Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu di antara mereka berkata: ‘Ya Allah, sesung-guhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai isteri dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang sudah larut malam dan aku dapati orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah mulut gua ini.’ Maka batu yang menutupi pintu gua itu pun bergeser sedikit..”

Alhamdulillah kajianpun selesai. Semoga bermanfaat dan memberikan faeda

➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖
Ingin ikut andil dalam menyebarkan dakwah Islam ?

Share Tulisan ini
dan Ikuti Akun sosial Media Erje Media.

▶ Subscribe channel Youtube Erje.TV
~~~~
▶ https://www.youtube.com/c/erjetv/

Like Facebook Fanspage Erje.TV
~~* *~~

https://www.facebook.com/erjemedia/

Follow Instagram Erje.TV
~~~~

https://www.instagram.com/erjetv/

Semoga menjadi Amal jariah untuk anda.

جزاكم الله خيرا

بارك الله فيك

Said bin Jubair, Tabi’in Rela Mati di Tangan Penguasa Dholim Demi Akidah

Taklim Ust Syamsurijal, Lc di Masjid RJ, Jumat 20 Robiul Awal 1439/ 8 Desember 2017

 

Said bin Jubair, Tabi’in Rela Mati di Tangan Penguasa Dholim Demi Akidah

Kekejaman Hajjad bin Yusuf ats-Syaqafi saat menjadi khalifah adalah sejarah kelam di masa kejayaan Islam di era generasi tabi’in.Belasan ribu umat Islam dibunuh tanpa alasan. Banyak di antara mereka yang rela terpenggal lehernya demi mempertahankan keimanan.

Salah seorang di antaranya adalah ulama besar, murid sahabat mulia Ibnu Abbas, Abu Said Al Kudri dan Umul Mukminin Aisya. Dia adalah Said bin Jubair. Tabi’in mulia dari golongan bangsa kulit hitam. Said bin Jubair sempat bertahun-tahun menjadi buronan pasukan Hajjad bin Yusuf. Perburuan terhadap Said bin Jubair bermula dari bergabungnya dia dengan pasukan panglimanya Hajjad bin Yusuf yang bernama Abdurrahman bin Asy’ats yang melakukan pemberontakan karena tak tahan lagi pada kedholiman dan kekejaman Hajjad. Tidak hanya Said bin Jubair yang bergabung, tapi juga banyak tabi’in mulia yang bersama Abdurrahman berperang melawan Hajjad.

Semula, pasukan ini meraih banyak kemenangan. Mampu menguwasai sejumlah kota dan kawasan, namun pada akhirnya keadaan berbalik. Pasukan Hajjad semakin perkasa dan berhasil menumpas perlawanan Abdurrahman. Pasukan Abdurrahman kocar-kacir. Banyak yang melarikan diri, sementara sisanya menyerahkan diri atau ditangkap pasukan Hajjad. Termasuklah yang melarikan diri adalah Said bin Jubair. Ia bersembunyi di sebuah desa kecil dekat Mekkah sambil melanjutkan mengajarkan Kitabullah dan Hadist Nabi.

Terhadap mereka yang menyerahkan diri atau ditangkap, Hajjad memberikan jalan keselamatan dengan mengaku kafir karena telah melawan kekuasaannya. Sementara bagi yang menolak mengakui kafir, langsung dipenggal lehernya. Sejak itulah tangan dan seluruh tubuh Hajjad berlumur darah belasan ribu kaum muslimin yang teguh memegang akidahnya. Kekejaman Hajjad tidak berlangsung sehari atau sepekan atau sebulan, melainkan bertahun-tahun. Bahkan, tetap berlangsung setelah sepuluh tahun, ketika Said bin Jubair tertangkap di tempat persembunyian dan diseret ke hadapan Hajjad.

Sebenarnya, sebelum tertangkap, para murid Said bin Jubair sudah menasehati agar ia melarikan diri karena sudah datang pasukan Hajjad ke Mekkah, namun Said menolak karena sudah merasa malu pada Allah terus bersembunyi. Ia sudah siap menghadapi apaoun takdir Allah kepadanya. Hajjad bukan kepalang gembiranya mendapati Said Jubair terikat di tiang tanpa daya. Mepadanya lantas ditanya apakah bersedia mengakui kafir karena melawan kekuasaannya. Said bin Jubair tegas menolak. Keputusannya mempercepat proses hukuman.

Hajjad memerintahkan algojo memenggal leher Said bin Jubair. Sa’id: (Menghadap kiblat sambil membaca firman Allah Ta’ala): “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al-An’am: 79) Hajjaj: “Palingkan ia dari kiblat!” Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala) “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 115) Hajjaj: “Sungkurkan dia ke tanah!” Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala) “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55) Hajjaj: “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti dia.” Sa’id: (Mengangkat kedua tangannya sambil berdoa), “Ya Allah jangan lagi Kau beri kesemaptan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

Tak lebih dari lima belas hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair, mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya silih berganti antara pingsan dan siuman. Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-sebentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau: “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkamku! Ini Sa’id bin Jubair berkata: “Mengapa engkau membunuhku?” Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri: “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair? Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!” Kondisi nestapa itu terus dialami Hajjad sampai ajalnya dijemput Allah.*

Pendalaman makna surat An-Nas

Pendalaman Makna Surat An Nas (2)

✔ Kata قُلْ yang berarti perintah untuk mengatakan. Perintah ini datang dari Allah untuk dilaksanakan Rosulullah. Kata قُلْ ini sangat banyak terdapat Al Qur’an yang merupakan salah satu bukti Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan pada sekalian manusia.

مَلِكِ النَّاسِ
(Raja atau penguasa Manusia)

– Ayat ini terdiri dua kata, مَلِكِ berarti raja dan النَّاسِ berarti seluruh manusia.
✔ Ayat ini menjadi penegasan bahwa Allah adalah satu-satunya raja dalam arti penguasa mutlak terhadap seluruh manusia. Penguasaan Allah terhadap mamusia tak sekedar mutlak tapi juga mandiri dan tak memerlukan syarat. Maka jikapun seluruh manusia ingkar sebagaimana iblis, Allah tetap Raja bagi manusia. Demikian juga sebaliknya, ketaatan manusia tak menambah kekuasaan Allah.

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)
l
Sementara raja-raja dari golongan manusia, seluas apapun kekuasaannya, dia sangat tergantung pada manusia lainnya. Kekuasaannya membutuhkan banyak syarat. Seperti rakyat yang setia dan pasukan yang siap berkorban.
❎ Meyakini hanya Allah yang Raja, maka sifat-sifat raja tidak pantas dipelihara. Merasa harus paling dipatuhi. Merasa paling berpengaruh dan segala perasaan sebagai penguasa. Harus dihilangkan.
✔ Karena kita bukan raja, melainkan sekedar hamba, maka hanya keridhoanlah yang wajib dikedepankan dalam menghadapi segala kondisi dan keadaan yang menjadi takdir Allah, Raja yang menjadi penguasa mutlak diri kita dengan seluruh jalan hidupnya.

إِلَهِ النَّاسِ
(Yang diibadahi manusia)

✔ Ayat ini merupakan penegasan bahwa Allah sebagai tujuan tunggal ibadah. Hanya Allah yang diibadahi. Implementasinya adalah ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah dalam setiap beribadah.
Meniatkan semua kegiatan, meskipun itu mubah, dalam rangka mengharap ridho Allah, seperti tidur dan mencari nafkah, maka semua akan bernilai ibadah. Ada pahala sebagai balasan.
✔ Ayat ini juga menjadi dalil tujuan penciptaan kita.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.(Adz-Dzariyat 56)

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
(Dari Keburukan bisikan yang tersembunyi yaitu syetan)

– Kata مِنْ artinya dari, lalu شَرِّ berarti keburukan, kemudian الْوَسْوَاسِ bisikan dan الْخَنَّاسِ artinya tersembunyi.

✔ Kata terakhir dalam ayat ini الْخَنَّاسِ yang dimaksud adalah syetan yang selalu membisikan keburukan agar dilakukan. Karena setiap manusia didampingi satu jin bernama qorin. Jin inilah yang selalu membisikan keburukan untuk selalu dilakukan. Allah juga mengawal manusia dengan malaikat yang selalu berusaha mencegah manusia menjalankan keburukan yang dibisikan qarin.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ 
(Yang membisikan kejahatan di hati-hati manusia)

– Kata الَّذِي berarti yang, kemudian يُوَسْوِسُ membisikan, فِي di, صُدُورِ merupakan kata jamak dari صُدر artinya dada. Penggunaan kata jamak karena kata berikutnya النَّاسِ berarti manusia yang banyak.

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
(Dari golongan jin dan manusia)

– Kata مِنَ dari, الْجِنَّةِ artinya jin, disambung و dan َالنَّاسِ manusia.

✔ Ayat ini memberi tahukan bahwa inilah pasukan syetan. Ada dari kalangan jin. Ada juga dari golongan manusia. Sebagaimana dikabarkan Allah dalam Surat Al An’am 112:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). ***

✳ Taklim Ust Maududi Abdullah di Masjid RJ, Selasa 4 Safar 1439/ 24 Okt 2017.

APAKAH SURGA DAN NERAKA ITU SUDAH ADA PENGHUNINYA ATAU BELUM

APAKAH SURGA DAN NERAKA ITU SUDAH ADA PENGHUNINYA ATAU BELUM

Sebelum menjawab hal itu maka poin yang paling penting dahulu yaitu Surga & Neraka itu sudah ada sekarang. Jadi bukanlah sesuatu yang diciptakan Allah Subhanahu wata’ala nanti.
Oleh karena itu ketika Allah berbicara surga dan neraka di dalam Alqur’an, Allah Subhanahu wata’ala sering mengatakan “U’iddats(Telah disiapkan/disediakan)”. Berarti Surga & Neraka telah ada dan sudah disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.
Dan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wasallam juga pernah melihat Surga & Neraka. Juga bukti bahwa surga & Neraka sudah ada dan telah disiapkan.

Lalu pertanyaannya apakah sudah ada penghuninya ?. Dalam Alquran Surat Ghafir Ayat ke 46 : Allah berfirman “Neraka dimana firaun dan bala tentaranya dimasukkan kedalamnya di setiap pagi dan petang, dan pada hari kiamat terjadi, Allah akan berkata, masukkan firaun dan tentara kepada adzab yang lebih pedih”
Maka dengan ayat ini, kita meyakini firaun dan bala tentara nya itu masuk neraka setiap pagi dan petang serta ini bukanlah di hari akhirat melainkan terjadi di alam barzah. Allah mengatakan dalam Alquran : “ketika hari kiamat sudah terjadi maka telah datang hari akhirat” berarti menunjukan bahwa ‘tiap pagi dan petang tadi’ bukan terjadi di hari akhirat melainkan di alam barzah.
Maka dengan firman Allah Subhanahu wata’ala diatas menunjukan bahwa saat ini telah ada penghuni didalam neraka yaitu firaun dan tentaranya, untuk selain firaun dan bala tentaranya hanya Allah yang tahu

Adapun Surga, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wasallam berbicara tentang Ruh nya para Syuhada, yang mereka adalah burung-burung hijau yang berterbangan di surga Allah Subhanahu wata’ala. Kalau dikatakan hadits itu Surga sudah ada penghuninya, artinya sudah ada yang datang kesana.
Namun ada saatnyasemua itu ditarik kemudian mereka berada di padang mahsyar dalam kurun waktu yang hingga ratusan tahun, dan selama ratusan tahun itu juga Surga berkembang lebih baik dan terus lebih baik, serta Neraka berkembang lebih dahsyat dan terus lebih dahsyat hingga sampai masuk kepada Surga & Neraka para penghuninya semua setelah melewati padang mahsyar.
Seperti ini lah penghuni Surga & Neraka menurut Alqur’an dan Hadits, penghuni yang sekarang maupun yang akan datang.

Sumber :

PENDALAMAN MAKNA JUZ 30

InsyaAllah Kajian

  Setiap Selasa Sore Disetiap Pekan
Waktu: Ba’da Ashar s/d selesai
kajian rutin ust maududi yang baru copy“PENDALAMAN MAKNA JUZ 30″
Bersama Ustadz Maududi Abdullah, Lc.حفظه الله تعلى
Untuk Umum