Berita Terkini

Tag Archives: MASJID SUNNAH DI PEKANBARU

DAUROH SYAIKH ABDURROZZAQ – Nasehat Pagi

akrilik

DAUROH USTADZ ZAMZAMI JUNED, Lc – Jangan Salah Meletakkan Cinta

poster

DIKLAT MUAMALAH | Dr.ERWANDI TARMIZI, Lc, MA | Masjid Raudhatul Jannah

Untitled-1 copy

DONOR DARAH DI MASJID RAUDHATUL JANNAH

DONOR DARAH AKRILIK

TABLIGH AKBAR KEMANUSIAAN-KEPADAMU DUNIA

WhatsApp Image 2018-02-02 at 9.26.42 AM

DAUROH USTADZ Dr. ALI MUSRI SEMJAN PUTRA, MA

brosur terbaru copy

Pendalaman Makna Surat AL-KAUTSAR

Pendalam Makna سُوْرَةُ الكَوْثَرِ

Ustadz Maududi Abdullah, Lc
Masjid Raudhatul Jannah
Selasa 1 Robiul Akhir 1439/ 19 Desember 2017.
✍✍✍✍✍✍✍✍ ﷽

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
Seaungguhnya kami memberimu Al Kawtsar

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Maka sholatlah dan menyembelilhlahlah

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus

1. Diawali إِنَّا berarti sesungguhnya kami, أَعْطَيْنَاكَ terdiri dari tiga kata, yaitu أَعْطَي memberi, نَا kami dan كَ kamu, الْكَوْثَرَ nama salah satu sungai di surga.
– Sebagian ulama mengartikan الْكَوْثَرَ kebaikan-kebaikan. Hal itu dikarenakan di sungai الْكَوْثَرَ di dalam surga terdapat banyak kebaikan.

2. Kata فَصَلِّ terdiri dari dua suku kata, ف maka dan َصَلِّ sholatlah, demikian juga dengan لِرَبِّكَ terdiri dari tiga kata, ل untuk, رَبِّ Tuhan, ِّكَ kamu, وَانْحَرْ dan menyembelihlah.
– Ini perintah tegas agar hanya mendirikan sholat semata karena Allah. Iklas. Tidak boleh sholat dengan alasan apapun, selain untuk Allah.

❎ Seperti sholat demi pujian mahluk atau sholat demi mempertahankan ilmu kebal dan lain sebagaianya.

3. Kata إِنَّ sesungguhnya, شَانِئَك terdiri dari dua kata, شَانِئ orang yang membenci dan ك َ kamu, هُوَ dia, الْأَبْتَرُ terputus.

– Orang kafir Quraisy menyebut Nabi Muhammad الْأَبْتَرُ, seperti Abu Jahal dan paman Nabi Abu Lahab. Karena itu, lewat ayat ini Allah membantah sebutan tersebut.
– Terputus oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai tak tersambung dengan kebaikan. Sebagian lagi mentafsirkan bahwa terputus berarti setelah mati tak dibicarakan orang lagi.

Catatan:
✔ Mengenai Al Kawtsar Rosul menjelaskan:
فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ

“Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah melakukan amalan baru sesudahmu.” (HR. Muslim, no. 400).

– Sebagian riwayat menyebutkan Sungai Al Kawtsar yang mengaliri air ke Telaga Nabi pada hari kebangkitan. Di telaga inilah umat Nabi Muhammad akan diberi minum. Begitu minum air Telaga Nabi maka hilang dahaga selamanya.
– Sebagaimana pada akhir hadist di atas juga dikabarkan, akan ada umat Nabi yang akan diusir dari Telaga Nabi. Dijelaskan, mereka adalah yang berwudhu dan sholat, namun juga mengerjakan amalan yang baru. Amal yang tidak dicontohkan atau diperintahkan Nabi Muhammad. Bid’ah!*

|KITAB MINHAJUL MUSLIMIN|Adab anak kepada orangtuanya

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kajian rutin Senin Malam,
Senin 23 Rabi’ul Awal 1439 H / 11 Desember 2017. ⏰ Waktu ba’da Maghrib – selesai.
Bersama Ustadz Asror Habibi, Lc حفظه الله تعلى
Tempat : Masjid Raudhatul Jannah.

✒ Materi : Pembahasan “Kitab Minhajul Muslim”

Bab : Adab Anak kepada Orantuanya.

Dalam kitab ini, khusuanya bab ini menceritakan tentang begitu mulianya kedudukan orangtua terlebih lagi seorang ibu. Banyak ayat-ayat dan hadits yang mewajibkan kepada seorang anak harus berbakti kepada kedua orangtuanya. Bahkan banyak pula dalam ayat-ayat yang mewajibkan kita memenuhi kewajiban atau Hak-hak Allah Ta’ala (Tauhid atau beribadah semata-mata kepada Allah Ta’ala dan tidak mensyirikan dengan sesuatu apapun) setelahnya dinggandengkan hak yang harus dipenuhi adalah haknya atau berbakti kepada kedua orangtua.

Mengenai wajibnya seorang anak berbakti kepada orang tua, Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam Qur’an :

QS. An-Nisa ayat : 36.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak..” [ An-Nisa : 36]

QS Al-Isra’ ayat : 23-24.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [ Al-Isra : 23]

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil” [ Al-Isra : 24]

Juga terdapat dalam QS. Luqman ayat : 14-15.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali” [ QS. Luqman AYAT : 14]

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik dan ikuti jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu maka Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu kerjakan” [ QS. Luqman ayat : 15]

Berbakti dan taat kepada orang tua terbatas pada perkara yang ma’ruf. Adapun apabila orang tua menyuruh kepada kekafiran, maka tidak boleh taat kepada keduanya. Allah Ta’ala berfirman.

QS. Al-Ankabut ayat : 8

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

“Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya..” [ QS. Al-Ankabut ayat : 8]

Selain kewajiban memenihu hak kedua orantua tadi karena langsung perintah Allah Ta’ala ada perintah tuk berbakti kepada kedua orangtua itu dikarenakan jasa atau jerih payah kedua orangtua tersebut. Seperti jerih payah dan kesusahan ketika seorang ibu melahirkan..menyusui anaknya, perjuangan membesarkan dan sebagainya. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat dan hadits di atas.

Tidak ada suatu kebaikan yangvlebih mulia dan lebih utama selain perintah atau kebaikan yang digandeng Allah Ta’ala dengan perintah akan hak Allah Ta’ala. Dan tidak ada pula suatu keburukan yang lebih buruk dampak dan besar dosanya selain peebuatan yang digandeng Allah Ta’ala dengan perintah larangan-Nya. Tak hanya itu, berbakti kepada kedua orangtua tersebut lebih tinggi dan lebih utama nilainya dan kedudukannya dibanding dengan amalan jihad fisabilillah. Sebagaimana

Hadits diriwayatkan Abdullâh bin `Amr ra :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

“Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullâh, lalu dia minta idzin ikut berjihad. Rasulullâh bertanya: ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Lelaki itu menjawab, “Ya.” Rasulallâh bersabda, “Berjihadlah di sisi keduanya!”

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ibnu Majah, dikatakan bawa seorang lelaki datang kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam, lalu berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّى جِئْتُ أُرِيدُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِى وَجْهَ الله وَالدَّارَ الآخِرَةَ وَلَقَدْ أَتَيْتُ وَإِنَّ وَالِدَىَّ لَيَبْكِيَانِ. قَالَ : فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya datang ingin berjihad bersamamu, mencari wajah Allah dan (surga) di kehidupan akhirat, dan sesungguhnya kedua orangtua saya benar-benar menangis. Beliau Rasulullah SAW menjawab: “Kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka berdua tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.”

Bagi seorang muslim haruslah mengerti dan memahami adab-adab berbakti kepada kedua orangtuanya, yaitu :

Hendaklah seorang anak taat terhadap apa-apa yang diperintahkan orangtuanya kepadanya. Tapi bukanlah ketaat kepada kemungkaran atau kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Jika orangtua menuyuruh melakukan itu maka kita diperintahkan untuk mentaatinya. Meski demikian Allah Ta’ala tetap memeeintahkan kepada kita untuk tetap berbuat baik dan berlemah lembut kepada orangtua tadi.

Selalu memuliakan kedua orangtuanya. Baik dengan ucapan dan perbuatan. Tidak boleh meninggikan suaranya di hadapan kedua orangtuny, mengahardik, membantah atau berlaku dan tidak boleh menampakkan kelebihan pemberian (hadiah dan semisalnya) kepada istri dan anak-anak kita sementara orangtua hanya diberi sekedarnya saja. Kemudian tidak dibenarkan kita memanggil mereka dengan namanya saja. Di sisi lain, ucapkanlah ucapan-ucapan yang baik yang disenangi dan ucapan penuh harapan. Ini merupakan bentuk berbakti dan kemuliaan kepada kedua orangtua kita.

Begitu utama dan mulianya nilai amalan berbakti kepada kedua orantua itu, sampai-sampai Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam berwasiat mewasiatkan hal tersebut kepada sahabat yang mulia Abu Darda’ ra dalam sebuah hadits :
HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18

Abu Darda’ berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan sembilan perkara kepadaku yaitu:

1- Janganlah engkau mempersekutukan Allah meskipun lehermu akan dipenggal atau dirimu akan dibakar.
2- Jangan sekali-kali meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, (karena) barangsiapa yang melakukannya dengan sengaja, niscaya jaminan Allah akan terlepas darinya.
3- Jangan meminum minuman keras, karena itu adalah kunci segala kejelekan.
4- Dan taatilah kedua orang tuamu, apabila mereka menyuruhmu untuk menyerahkan seluruh harta yang engkau miliki maka serahkanlah hartamu kepada keduanya.
5- Janganlah menentang pemimpin walaupun engkau tahu bahwa engkaulah yang benar.
6- Jangan lari dari medan pertempuran, meskipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu melarikan diri.
7- Infakkanlah sebagian harta yang engkau miliki kepada keluargamu.
8- Jangan lalai mengawasi keluargamu (dalam mendidik mereka)
9- Dan ajarkanlah kepada mereka untuk bertakwa kepada Allah.” ( HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18)

Perbanyak perbuatan dan cara yang membuat lapang hidup mereka. Misalnya menyediakan makan-malanan

Menyambung silaturahim dengan karib kerabat mereka(adik kakak orangtua kita), senantiasa mendo’akan mereka dan meminta ampunkan dosa mereka, menuaikan janji-janji mereka dan memuliakan sahabat-sahabat orangtua kita.

Berbakti Kepada Orang Tua Dapat Menghilangkan Kesulitan Yang Sedang Dialami
Yaitu, dengan cara bertawassul dengan amal shalih tersebut. Dalilnya adalah hadits riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, dan salah seorangnya bertawassul dengan bakti kepada ibu bapaknya.

Berbakti Kepada Orang Tua Dapat Menghilangkan Kesulitan Yang Sedang Dialami
Yaitu, dengan cara bertawassul dengan amal shalih tersebut. Dalilnya adalah hadits riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, dan salah seorangnya bertawassul dengan bakti kepada ibu bapaknya.

Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2272), Fathul Baari (IV/449), Muslim (no. 2743), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.

Haditsnya sebagai berikut:

انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيْتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوْهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهَا الْغَارَ. فَقَالُوْا : إِنَّهُ لاَيُنْجِيْكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوْا اللهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اَللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَكُنْتُ أَغْبِقُ قَبْلَ هُمَا أَهْلاً وَ لاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْئٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَ فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوْقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ. فَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْمَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هَذِه الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا

“ …Pada suatu hari tiga orang dari ummat sebelum kalian sedang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka berada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi mulut gua. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.’ Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu di antara mereka berkata: ‘Ya Allah, sesung-guhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai isteri dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang sudah larut malam dan aku dapati orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah mulut gua ini.’ Maka batu yang menutupi pintu gua itu pun bergeser sedikit..”

Alhamdulillah kajianpun selesai. Semoga bermanfaat dan memberikan faeda

➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖
Ingin ikut andil dalam menyebarkan dakwah Islam ?

Share Tulisan ini
dan Ikuti Akun sosial Media Erje Media.

▶ Subscribe channel Youtube Erje.TV
~~~~
▶ https://www.youtube.com/c/erjetv/

Like Facebook Fanspage Erje.TV
~~* *~~

https://www.facebook.com/erjemedia/

Follow Instagram Erje.TV
~~~~

https://www.instagram.com/erjetv/

Semoga menjadi Amal jariah untuk anda.

جزاكم الله خيرا

بارك الله فيك

Larangan Sholat di Kuburan atau Menghadap Kuburan

Larangan Sholat di Kuburan atau Menghadap Kuburan
〰〰〰〰〰〰〰〰
Taklim Kitab
Qoulul Mubin fi Akhthoil Musholin
Karya Syekh :
Masyhur Hasan Salman
Masjid Raudhatul Jannah
Ustadz : Zamzami Juned, Lc,
Ahad 23 Robiul Awal 1439/ 11 Desember 2017.

➖➖➖➖➖➖➖➖
Sesungguhnya seluruh permukaan bumi adalah suci dan bisa dijadikan tempat sujud, kecuali dua tempat. Yakni kuburan dan kamar mandi.

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

Bumi seluruhnya adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi. [HR. Ahmad (XVIII/312 no. 11788)

لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا

Janganlah duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadapnya. [Muslim (II/668 no. 972)

Hadist mengenai larangan mendirikan sholat di kuburan atau menghadap kuburan atau di tempat-tempat yang ada kuburannya masih banyak. Larangan ini sebagai bagian dari menolak mengikuti kebiasaan orang-orang Yahudi. Mereka suka menjadikan makam nabi dan pemuka agamanya sebagai tempat ibadah.

قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ؛ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Semoga Allâh membinasakan kaum Yahudi. Mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid. [HR. Bukhari (I/531 no. 437) dan Muslim (I/376 no. 530)

Nabi Muhammad bahkan selalu berdoa agar makamnya tidak dijadikan tempat ibadah.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Ya Allâh, janganlah Engkau jadikan kuburanku berhala yang disembah. Allâh sangat murka kepada kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka masjid [16]

Lantas bagaimana dengan kondisi sekarang, di mana makam Nabi Muhammad sekarang berada dalam Masjid Nabawi? Kondisi ini tidak bisa dijadikan dalil bolehnya ada makam di dalam masjid, karena kondisi ini adalah kesalahan yang tidak disepakati para tabi’in ketika keputusan tersebut dilakukan penguasa.

Adalah Khalifah Al Walid Ibnu Abdul Malik, penguasa yang melakukan pelebaran besar-besaran Masjid Nabawi dan memutuskan memasukan makam Nabi dalam komplek masjid pada tahun 94 Hijriyah. Keputusan tersebut ditolak para tabi’in, seperti Said bin Al Musyayyib.

Harus jadi patokan, awalnya makam Nabi berada di luar masjid, di dalam kamar, di dalam rumah Nabi. Adalah ketentuan syariat, setiap nabi dimakamkan di mana diwafatkan. Itu jugalah yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad saat meninggal di pangkuan Aisya, maka dimakamkan di sana.

⚠ Sholat di Masjid Nabawi tetap dibolehkan meskipun di dalamnya ada makam Nabi, Abu Bakar dan Umar, karena masjid tersebut memiliki kekhususan dan kemuliaan, yakni 1000 kali dibandingkan masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.

↔Kaidahnya, menurut Ibnu Taimiyah, sholat di waktu-waktu terlarang tetap boleh jika ada alasannya. Misalnya, seseorang masuk masjid selepas Ashar, dia tetap boleh mengerjakan sholat sunnah. Demikian juga dengan sholat di Masjid Nabawi, boleh karena ada kekhususan tempat tersebut. Sementara larangan sholat di masjid yang ada kuburannya selain Masjid Nabawi bersifat mutlak.

❎ Maka setiap muslim harus menghindari sholat di kuburan atau di tempat-tempat yang ada makam atau kuburan di dalamnya, terutama yang posisi kuburannya berada di arah kiblat. Hukumnya haram dan bisa menjadi sebab sholat tidak sah karenanya.*

➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖
Ingin ikut andil dalam menyebarkan dakwah Islam ?

Share Tulisan ini
dan Ikuti Akun sosial Media Erje Media.

▶ Subscribe channel Youtube Erje.TV
~~~~
▶ https://www.youtube.com/c/erjetv/

Like Facebook Fanspage Erje.TV
~~* *~~

https://www.facebook.com/erjemedia/

Follow Instagram Erje.TV
~~~~

https://www.instagram.com/erjetv/

Semoga menjadi Amal jariah untuk anda.

جزاكم الله خيرا

بارك الله فيك

Said bin Jubair, Tabi’in Rela Mati di Tangan Penguasa Dholim Demi Akidah

Taklim Ust Syamsurijal, Lc di Masjid RJ, Jumat 20 Robiul Awal 1439/ 8 Desember 2017

 

Said bin Jubair, Tabi’in Rela Mati di Tangan Penguasa Dholim Demi Akidah

Kekejaman Hajjad bin Yusuf ats-Syaqafi saat menjadi khalifah adalah sejarah kelam di masa kejayaan Islam di era generasi tabi’in.Belasan ribu umat Islam dibunuh tanpa alasan. Banyak di antara mereka yang rela terpenggal lehernya demi mempertahankan keimanan.

Salah seorang di antaranya adalah ulama besar, murid sahabat mulia Ibnu Abbas, Abu Said Al Kudri dan Umul Mukminin Aisya. Dia adalah Said bin Jubair. Tabi’in mulia dari golongan bangsa kulit hitam. Said bin Jubair sempat bertahun-tahun menjadi buronan pasukan Hajjad bin Yusuf. Perburuan terhadap Said bin Jubair bermula dari bergabungnya dia dengan pasukan panglimanya Hajjad bin Yusuf yang bernama Abdurrahman bin Asy’ats yang melakukan pemberontakan karena tak tahan lagi pada kedholiman dan kekejaman Hajjad. Tidak hanya Said bin Jubair yang bergabung, tapi juga banyak tabi’in mulia yang bersama Abdurrahman berperang melawan Hajjad.

Semula, pasukan ini meraih banyak kemenangan. Mampu menguwasai sejumlah kota dan kawasan, namun pada akhirnya keadaan berbalik. Pasukan Hajjad semakin perkasa dan berhasil menumpas perlawanan Abdurrahman. Pasukan Abdurrahman kocar-kacir. Banyak yang melarikan diri, sementara sisanya menyerahkan diri atau ditangkap pasukan Hajjad. Termasuklah yang melarikan diri adalah Said bin Jubair. Ia bersembunyi di sebuah desa kecil dekat Mekkah sambil melanjutkan mengajarkan Kitabullah dan Hadist Nabi.

Terhadap mereka yang menyerahkan diri atau ditangkap, Hajjad memberikan jalan keselamatan dengan mengaku kafir karena telah melawan kekuasaannya. Sementara bagi yang menolak mengakui kafir, langsung dipenggal lehernya. Sejak itulah tangan dan seluruh tubuh Hajjad berlumur darah belasan ribu kaum muslimin yang teguh memegang akidahnya. Kekejaman Hajjad tidak berlangsung sehari atau sepekan atau sebulan, melainkan bertahun-tahun. Bahkan, tetap berlangsung setelah sepuluh tahun, ketika Said bin Jubair tertangkap di tempat persembunyian dan diseret ke hadapan Hajjad.

Sebenarnya, sebelum tertangkap, para murid Said bin Jubair sudah menasehati agar ia melarikan diri karena sudah datang pasukan Hajjad ke Mekkah, namun Said menolak karena sudah merasa malu pada Allah terus bersembunyi. Ia sudah siap menghadapi apaoun takdir Allah kepadanya. Hajjad bukan kepalang gembiranya mendapati Said Jubair terikat di tiang tanpa daya. Mepadanya lantas ditanya apakah bersedia mengakui kafir karena melawan kekuasaannya. Said bin Jubair tegas menolak. Keputusannya mempercepat proses hukuman.

Hajjad memerintahkan algojo memenggal leher Said bin Jubair. Sa’id: (Menghadap kiblat sambil membaca firman Allah Ta’ala): “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al-An’am: 79) Hajjaj: “Palingkan ia dari kiblat!” Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala) “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 115) Hajjaj: “Sungkurkan dia ke tanah!” Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala) “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55) Hajjaj: “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti dia.” Sa’id: (Mengangkat kedua tangannya sambil berdoa), “Ya Allah jangan lagi Kau beri kesemaptan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

Tak lebih dari lima belas hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair, mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya silih berganti antara pingsan dan siuman. Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-sebentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau: “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkamku! Ini Sa’id bin Jubair berkata: “Mengapa engkau membunuhku?” Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri: “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair? Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!” Kondisi nestapa itu terus dialami Hajjad sampai ajalnya dijemput Allah.*