Berita Terkini

Tag Archives: MASJID RJ

DONOR DARAH DI MASJID RAUDHATUL JANNAH

DONOR DARAH AKRILIK

Tanpa Tauhid Musnah Islam dan Ketaatan

Tanpa Tauhid Musnah Islam dan Ketaatan

☝☝☝☝☝☝☝☝

Taklim Ustadz:
Maududi Abdullah, Lc
Masjid Raudhatul Jannah
⏰ Sabtu, 5 Robiul Akhir 1439/ 23 Desember 2017.

——————————-
✔ Tauhid dalam Islam bersifat mutlak. Tidak bisa ditawar. Posisi tauhid seperti wudhu dalam sholat. Tanpa menghilangkan hadast , sholat menjadi percuma dan menjadi dosa.
– Musuh tauhid adalah syirik.
Jika ada syirik, sudah pasti tauhid musnah. Jika diibaratkan tauhid itu sebagai susu murni yang mendatangkan banyak kebaikan, maka syirik itu seperti kotoran manusia. Sebanyak apapun susu ketika dicampur kotoran manusia, maka menjadi sampah.
– Mengingat mutlak tauhid dalam Islam, maka harus diupayakan dan dijaga. Selain itu, juga harus selalu diminta kepada Allah. Sebagaimana para nabi juga tiada henti minta perlindungan Allah dari kesyirikan.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آَمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala (shonam).” (QS. Ibrahim: 35).

✔ Mengingat teramat mutlaknya tauhid pada Islam, maka adalah sangat wajib tiada henti menjaganya. Lalu, menjadikan tauhid nasehat yang paling utama kepada istri, anak dan karib-kerabat. Mengusahakan bertauhid secara berjamaah.
– Karena mulianya nasehat tauhid pada kekuarga, maka Allah memuji Lukmanul Hakim saat menasehati anaknya agar menjauhi syirik.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).

❎ Syirik adalah seperti racun bagi tubuh. Sesehat apapun tubuh ketika dimasuki racun sekecil apapun, jika tidak segera tertolong, maka kebinasaan yang akan menjadi akhir.
– Padahal syirik lebih berbahaya dari racun. Sebab, jika racun hanya membinasakan badan di dunia, sementara syirik menjadi penghancur akhirat.

Pemusnah harapan keselamatan di Hari Pembalasan. Sekecil apapun kesyirikan dalam hati jadi penolak ampunan Allah. Siapapun yang dosanya tak diampuni, maka haram masuk surga.

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)

❎ Jalan akhirat pemilik kesyirikan seluruhnya siksa dan nista, meskipun teman berkumpulnya kelak adalah mereka yang super mulia dan berkuasa di dunia. Seperti Fir’aun, Namrud dan mereka semua yang kafir dan menyombongkan diri.

❎ Yakinlah! Imanilah! Percayalah! Bahwa kesyirikan menjadi sebab kekekalan di neraka. Siapapun yang tercemat tauhidnya dan belum ditaubati lalu terbawa mati, maka tempatnya di akhirat adalah seburuk-buruk tempat. Neraka Jahanam! Tidak sekedar sebentar, melainkan selamanya. Kurun yang tiada batas. Abadi!*

Pentingnya Hijrah di Jalan Allah

✔ Hijrah kerap maknanya disempitkan sebagai peristiwa pindahnya Nabi Muhammad didampingi Abu Bakar dari Mekkah ke Madinah. Sehingga, seolah hijrah dalam Islam sekedar sejarah. Masa lampau yang tak lagi bisa diamalkan.
– Padahal, hijrah adalah salah satu syariat dan belum dihapus. Merupakan solusi dari Allah untuk situasi tertentu. Di saat tempat tinggal kita, lingkungan yang ada tak memberi ruang untuk mengimani dan mengibadahi Allah. Maka, sampai kapanpum hijrah bisa dilakukan, selagi dengan tujuan menuju tempat yang menjadikan iman dan ketaatan menjadi lebih baik.
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” [An-Nisaa/4 : 100]

✔ Bahkan, juga dinamakan hijrah, ketika tidak terjadi perpindahan tempat secara fisik, tetapi terjadi pergeseran dari kesesatan pada petunjuk. Dari maksiat pada ketaatan. Dari bid’ah pada sunnah. Dari kesyirikan menuju tauhid.

✔ Bahkan, hjjrah dalam situasi tertentu, diperintahkan Allah untuk disegerakan. Tidak boleh ditunda. Harus dilakukan secepat mungkin. Sebelum semua terlambat, ketika kematian datang menjemput.

وَسَارِعُوْا اِلىَ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجنَّةٍ عَرْضُهَا السَّموتُ وَالاَرْضُ

اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ ]ال عمران:133[

“Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan bersegeralah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS: Ali Imran; 133).*

➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖

Larangan Sholat di Kuburan atau Menghadap Kuburan

Larangan Sholat di Kuburan atau Menghadap Kuburan
〰〰〰〰〰〰〰〰
Taklim Kitab
Qoulul Mubin fi Akhthoil Musholin
Karya Syekh :
Masyhur Hasan Salman
Masjid Raudhatul Jannah
Ustadz : Zamzami Juned, Lc,
Ahad 23 Robiul Awal 1439/ 11 Desember 2017.

➖➖➖➖➖➖➖➖
Sesungguhnya seluruh permukaan bumi adalah suci dan bisa dijadikan tempat sujud, kecuali dua tempat. Yakni kuburan dan kamar mandi.

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

Bumi seluruhnya adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi. [HR. Ahmad (XVIII/312 no. 11788)

لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا

Janganlah duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadapnya. [Muslim (II/668 no. 972)

Hadist mengenai larangan mendirikan sholat di kuburan atau menghadap kuburan atau di tempat-tempat yang ada kuburannya masih banyak. Larangan ini sebagai bagian dari menolak mengikuti kebiasaan orang-orang Yahudi. Mereka suka menjadikan makam nabi dan pemuka agamanya sebagai tempat ibadah.

قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ؛ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Semoga Allâh membinasakan kaum Yahudi. Mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid. [HR. Bukhari (I/531 no. 437) dan Muslim (I/376 no. 530)

Nabi Muhammad bahkan selalu berdoa agar makamnya tidak dijadikan tempat ibadah.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Ya Allâh, janganlah Engkau jadikan kuburanku berhala yang disembah. Allâh sangat murka kepada kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka masjid [16]

Lantas bagaimana dengan kondisi sekarang, di mana makam Nabi Muhammad sekarang berada dalam Masjid Nabawi? Kondisi ini tidak bisa dijadikan dalil bolehnya ada makam di dalam masjid, karena kondisi ini adalah kesalahan yang tidak disepakati para tabi’in ketika keputusan tersebut dilakukan penguasa.

Adalah Khalifah Al Walid Ibnu Abdul Malik, penguasa yang melakukan pelebaran besar-besaran Masjid Nabawi dan memutuskan memasukan makam Nabi dalam komplek masjid pada tahun 94 Hijriyah. Keputusan tersebut ditolak para tabi’in, seperti Said bin Al Musyayyib.

Harus jadi patokan, awalnya makam Nabi berada di luar masjid, di dalam kamar, di dalam rumah Nabi. Adalah ketentuan syariat, setiap nabi dimakamkan di mana diwafatkan. Itu jugalah yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad saat meninggal di pangkuan Aisya, maka dimakamkan di sana.

⚠ Sholat di Masjid Nabawi tetap dibolehkan meskipun di dalamnya ada makam Nabi, Abu Bakar dan Umar, karena masjid tersebut memiliki kekhususan dan kemuliaan, yakni 1000 kali dibandingkan masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.

↔Kaidahnya, menurut Ibnu Taimiyah, sholat di waktu-waktu terlarang tetap boleh jika ada alasannya. Misalnya, seseorang masuk masjid selepas Ashar, dia tetap boleh mengerjakan sholat sunnah. Demikian juga dengan sholat di Masjid Nabawi, boleh karena ada kekhususan tempat tersebut. Sementara larangan sholat di masjid yang ada kuburannya selain Masjid Nabawi bersifat mutlak.

❎ Maka setiap muslim harus menghindari sholat di kuburan atau di tempat-tempat yang ada makam atau kuburan di dalamnya, terutama yang posisi kuburannya berada di arah kiblat. Hukumnya haram dan bisa menjadi sebab sholat tidak sah karenanya.*

➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖
Ingin ikut andil dalam menyebarkan dakwah Islam ?

Share Tulisan ini
dan Ikuti Akun sosial Media Erje Media.

▶ Subscribe channel Youtube Erje.TV
~~~~
▶ https://www.youtube.com/c/erjetv/

Like Facebook Fanspage Erje.TV
~~* *~~

https://www.facebook.com/erjemedia/

Follow Instagram Erje.TV
~~~~

https://www.instagram.com/erjetv/

Semoga menjadi Amal jariah untuk anda.

جزاكم الله خيرا

بارك الله فيك

Said bin Jubair, Tabi’in Rela Mati di Tangan Penguasa Dholim Demi Akidah

Taklim Ust Syamsurijal, Lc di Masjid RJ, Jumat 20 Robiul Awal 1439/ 8 Desember 2017

 

Said bin Jubair, Tabi’in Rela Mati di Tangan Penguasa Dholim Demi Akidah

Kekejaman Hajjad bin Yusuf ats-Syaqafi saat menjadi khalifah adalah sejarah kelam di masa kejayaan Islam di era generasi tabi’in.Belasan ribu umat Islam dibunuh tanpa alasan. Banyak di antara mereka yang rela terpenggal lehernya demi mempertahankan keimanan.

Salah seorang di antaranya adalah ulama besar, murid sahabat mulia Ibnu Abbas, Abu Said Al Kudri dan Umul Mukminin Aisya. Dia adalah Said bin Jubair. Tabi’in mulia dari golongan bangsa kulit hitam. Said bin Jubair sempat bertahun-tahun menjadi buronan pasukan Hajjad bin Yusuf. Perburuan terhadap Said bin Jubair bermula dari bergabungnya dia dengan pasukan panglimanya Hajjad bin Yusuf yang bernama Abdurrahman bin Asy’ats yang melakukan pemberontakan karena tak tahan lagi pada kedholiman dan kekejaman Hajjad. Tidak hanya Said bin Jubair yang bergabung, tapi juga banyak tabi’in mulia yang bersama Abdurrahman berperang melawan Hajjad.

Semula, pasukan ini meraih banyak kemenangan. Mampu menguwasai sejumlah kota dan kawasan, namun pada akhirnya keadaan berbalik. Pasukan Hajjad semakin perkasa dan berhasil menumpas perlawanan Abdurrahman. Pasukan Abdurrahman kocar-kacir. Banyak yang melarikan diri, sementara sisanya menyerahkan diri atau ditangkap pasukan Hajjad. Termasuklah yang melarikan diri adalah Said bin Jubair. Ia bersembunyi di sebuah desa kecil dekat Mekkah sambil melanjutkan mengajarkan Kitabullah dan Hadist Nabi.

Terhadap mereka yang menyerahkan diri atau ditangkap, Hajjad memberikan jalan keselamatan dengan mengaku kafir karena telah melawan kekuasaannya. Sementara bagi yang menolak mengakui kafir, langsung dipenggal lehernya. Sejak itulah tangan dan seluruh tubuh Hajjad berlumur darah belasan ribu kaum muslimin yang teguh memegang akidahnya. Kekejaman Hajjad tidak berlangsung sehari atau sepekan atau sebulan, melainkan bertahun-tahun. Bahkan, tetap berlangsung setelah sepuluh tahun, ketika Said bin Jubair tertangkap di tempat persembunyian dan diseret ke hadapan Hajjad.

Sebenarnya, sebelum tertangkap, para murid Said bin Jubair sudah menasehati agar ia melarikan diri karena sudah datang pasukan Hajjad ke Mekkah, namun Said menolak karena sudah merasa malu pada Allah terus bersembunyi. Ia sudah siap menghadapi apaoun takdir Allah kepadanya. Hajjad bukan kepalang gembiranya mendapati Said Jubair terikat di tiang tanpa daya. Mepadanya lantas ditanya apakah bersedia mengakui kafir karena melawan kekuasaannya. Said bin Jubair tegas menolak. Keputusannya mempercepat proses hukuman.

Hajjad memerintahkan algojo memenggal leher Said bin Jubair. Sa’id: (Menghadap kiblat sambil membaca firman Allah Ta’ala): “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al-An’am: 79) Hajjaj: “Palingkan ia dari kiblat!” Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala) “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 115) Hajjaj: “Sungkurkan dia ke tanah!” Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala) “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55) Hajjaj: “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti dia.” Sa’id: (Mengangkat kedua tangannya sambil berdoa), “Ya Allah jangan lagi Kau beri kesemaptan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

Tak lebih dari lima belas hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair, mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya silih berganti antara pingsan dan siuman. Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-sebentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau: “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkamku! Ini Sa’id bin Jubair berkata: “Mengapa engkau membunuhku?” Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri: “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair? Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!” Kondisi nestapa itu terus dialami Hajjad sampai ajalnya dijemput Allah.*

APAKAH SURGA DAN NERAKA ITU SUDAH ADA PENGHUNINYA ATAU BELUM

APAKAH SURGA DAN NERAKA ITU SUDAH ADA PENGHUNINYA ATAU BELUM

Sebelum menjawab hal itu maka poin yang paling penting dahulu yaitu Surga & Neraka itu sudah ada sekarang. Jadi bukanlah sesuatu yang diciptakan Allah Subhanahu wata’ala nanti.
Oleh karena itu ketika Allah berbicara surga dan neraka di dalam Alqur’an, Allah Subhanahu wata’ala sering mengatakan “U’iddats(Telah disiapkan/disediakan)”. Berarti Surga & Neraka telah ada dan sudah disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.
Dan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wasallam juga pernah melihat Surga & Neraka. Juga bukti bahwa surga & Neraka sudah ada dan telah disiapkan.

Lalu pertanyaannya apakah sudah ada penghuninya ?. Dalam Alquran Surat Ghafir Ayat ke 46 : Allah berfirman “Neraka dimana firaun dan bala tentaranya dimasukkan kedalamnya di setiap pagi dan petang, dan pada hari kiamat terjadi, Allah akan berkata, masukkan firaun dan tentara kepada adzab yang lebih pedih”
Maka dengan ayat ini, kita meyakini firaun dan bala tentara nya itu masuk neraka setiap pagi dan petang serta ini bukanlah di hari akhirat melainkan terjadi di alam barzah. Allah mengatakan dalam Alquran : “ketika hari kiamat sudah terjadi maka telah datang hari akhirat” berarti menunjukan bahwa ‘tiap pagi dan petang tadi’ bukan terjadi di hari akhirat melainkan di alam barzah.
Maka dengan firman Allah Subhanahu wata’ala diatas menunjukan bahwa saat ini telah ada penghuni didalam neraka yaitu firaun dan tentaranya, untuk selain firaun dan bala tentaranya hanya Allah yang tahu

Adapun Surga, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wasallam berbicara tentang Ruh nya para Syuhada, yang mereka adalah burung-burung hijau yang berterbangan di surga Allah Subhanahu wata’ala. Kalau dikatakan hadits itu Surga sudah ada penghuninya, artinya sudah ada yang datang kesana.
Namun ada saatnyasemua itu ditarik kemudian mereka berada di padang mahsyar dalam kurun waktu yang hingga ratusan tahun, dan selama ratusan tahun itu juga Surga berkembang lebih baik dan terus lebih baik, serta Neraka berkembang lebih dahsyat dan terus lebih dahsyat hingga sampai masuk kepada Surga & Neraka para penghuninya semua setelah melewati padang mahsyar.
Seperti ini lah penghuni Surga & Neraka menurut Alqur’an dan Hadits, penghuni yang sekarang maupun yang akan datang.

Sumber :

PENDALAMAN MAKNA JUZ 30

InsyaAllah Kajian

  Setiap Selasa Sore Disetiap Pekan
Waktu: Ba’da Ashar s/d selesai
kajian rutin ust maududi yang baru copy“PENDALAMAN MAKNA JUZ 30″
Bersama Ustadz Maududi Abdullah, Lc.حفظه الله تعلى
Untuk Umum

Metode Menentukan Masuknya Bulan Ramadhan

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. Al Baqarah [2]: 185).

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala telah mewajibkan untuk berpuasa di bulan Ramadhan dari awal sampai akhir bulan. Awal bulan Ramadhan diketahui dengan dua metode:

Metode Pertama, Melihat Hilal Bulan Ramadhan

Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلَالَ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

“Jika kalian melihat hilal (bulan Ramadhan), maka berpuasalah. Jika kalian melihat hilal (bulan Syawwal), maka berbukalah (berhari rayalah). Jika hilal tidak terlihat, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari)” [1]

Imam Ahmad dan An-Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ، وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ

“Janganlah kalian berpuasa sampai melihat hilal (bulan Ramadhan). Dan jangan berbuka (berhari raya) sampai melihat hilal (bulan Syawwal).” [2]

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Thalq bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّ اللهَ جَعَلَ هَذِهِ الْأَهِلَّةَ مَوَاقِيتَ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا

“Sesungguhnya Allah menjadikan hilal ini sebagai tanda-tanda waktu. Jika kalian melihatnya (hilal bulan Ramadhan), maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya (hilal bulan Syawwal), maka berbukalah (berhari rayalah).” [3]

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

جَعَلَ اللهَ الْأَهِلَّةَ مَوَاقِيتَ لِلنَّاسِ، فصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Allah menjadikan hilal sebagai tanda waktu bagi manusia. Berpuasalah karena melihatnya (hilal bulan Ramadhan). Dan berbukalah (berhari rayalah) karena melihatnya (hilal bulan Syawwal). [4]

Dalam hadits-hadits yang mulia ini, wajibnya berpuasa di bulan Ramadhan dikaitkan dengan melihat hilal bulan Ramadhan. Juga terdapat larangan untuk berpuasa tanpa melihat hilal. Allah Ta’ala telah menjadikan hilal (bulan) sebagai tanda (petunjuk) waktu bagi manusia, yang dengan hilal tersebut diketahuilah waktu-waktu ibadah dan muamalah mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji’” (QS. Al Baqarah [2]: 189).

Hal ini adalah rahmat Allah Ta’ala dan kemudahan bagi umat manusia, ketika mengaitkan wajibnya puasa Ramadhan dengan suatu perkara yang jelas dan tanda yang nyata, yang bisa dilihat dengan penglihatan mereka. Dan tidaklah disyaratkan bahwa hilal tersebut harus dilihat oleh semua manusia. Jika sebagian mereka telah melihatnya, meskipun hanya satu orang, maka wajib bagi semua manusia untuk berpuasa.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, ”Seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ’Aku telah melihat hilal.’ Yang dimaksud adalah hilal bulan Ramadhan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟

‘Apakah Engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah?’

Orang tersebut berkata, ‘Ya’. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ؟

‘Apakah Engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?’

Orang tersebut berkata,’Ya’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا

‘Wahai Bilal, umumkanlah kepada kaum muslimin untuk berpuasa besok hari.’” [5]

Diriwayatkan pula dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

تَرَائِى النَّاسُ الْهِلَالَ، فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَ، وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

”Banyak orang berusaha melihat hilal. Kemudian aku mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku sungguh-sungguh melihatnya. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa” [6]

Metode Kedua, Menggenapkan Bulan Sya’ban Menjadi Tiga Puluh Hari

Berdasarkan metode penentuan awal masuk bulan Ramadhan dengan melihat hilal, jika hilal tidak terlihat, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi tiga puluh hari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

“Jika hilal tidak terlihat, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari).”

Maksud perkataan beliau, (غُمَّ عَلَيْكُم) adalah jika sesuatu menutupi hilal, sehingga tidak bisa dilihat pada malam ketiga puluh bulan Sya’ban, baik berupa mendung atau debu, maka hitunglah bilangan bulan Sya’ban secara sempurna, yaitu dengan menggenapkannya menjadi tiga puluh hari. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits yang lainnya,

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ ثَلاَثِينَ

“Jika hilal tidak terlihat, maka genapkanlah (bulan Sya’ban) menjadi tiga puluh hari.” [7]

Maksudnya adalah larangan berpuasa pada hari yang diragukan. Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ صَامَ هَذَا الْيَوْمَ، فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan, maka sungguh dia telah durhaka kepada Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” [8]

Wajib atas setiap muslim untuk mengikuti petunjuk yang datang dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah puasa dan ibadah lain seluruhnya. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membatasi pengetahuan tentang masuknya bulan Ramadhan dengan salah satu dari dua tanda yang nyata, yang diketahui oleh orang awam dan orang terpelajar, yaitu melihat hilal atau menggenapkan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Barangsiapa yang mendatangkan suatu metode untuk (menentukan) mulai wajibnya berpuasa (Ramadhan), selain metode yang telah dijelaskan oleh syariat, maka dia telah durhaka kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam [9]. Hal ini sebagaimana orang-orang yang mengatakan bahwa wajib untuk menggunakan hisab untuk menentukan masuknya bulan Ramadhan. Padahal dalam metode hisab mungkin terdapat kesalahan, dan juga sesuatu yang sulit (tersembunyi) yang tidak bisa dikuasai oleh semua orang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, ”Aku melihat manusia dalam bulan Ramadhan dan juga bulan lainnya, di antara mereka ada yang mendengarkan perkataan sebagian ahli hisab yang bodoh, bahwa hilal telah atau belum terlihat. Mereka mengikuti perkataan tersebut baik dalam batin mereka atau batin dan lahir mereka. Sampai-sampai datang berita kepadaku bahwa sebagian qadhi (hakim) ada yang menolak persaksian sejumlah orang shalih karena perkataan ahli hisab yang bodoh dan pendusta bahwa hilal telah atau belum terlihat. Maka mereka termasuk orang yang mendustakan kebenaran …” sampai perkataan Syaikhul Islam, “Maka kita telah mengetahui dengan pasti dari agama Islambahwa menentukan hilal Ramadhan, haji, ‘iddah, atau ilaa’ [10] (dari hukum-hukum yang dikaitkan dengan hilal) berdasarkan perkataan ahli hisab (bahwa hilal telah atau belum terlihat) maka hal ini tidak diperbolehkan. Dalil-dalil tegas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini sangatlah banyak. Kaum muslimin telah bersepakat dengan hal ini, dan tidak diketahui sama sekali adanya perselisihan di antara mereka, baik generasi terdahulu atau pun generasi belakangan.[11]

Dalam menentukan masuknya bulan Ramadhan dengan ilmu hisab ini terdapat kesulitan dan kesempitan bagi umat ini. Dan Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (QS. Al Hajj [22]: 78).

Maka kewajiban setiap muslim adalah membatasi diri atas apa yang telah ditetapkan oleh syariat Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana wajib bagi kaum muslimin untuk membatasi diri atas apa yang telah Allah Ta’ala syariatkan dalam perkara selain hilal dan juga saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. [12]

***

Selesai diterjemahkan di pagi hari, Sint-Jobskade Rotterdam NL, Sabtu 5 Sya’ban 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:
[1] HR. Bukhari (1900) dan Muslim (8/1080).

[2] HR. Bukhari (1906) dan Muslim (3/1080) dan lafadz di atas adalah milik keduanya. Di dalam hadits tersebut juga terdapat tambahan, yaitu kalimat terahir dalam hadits sebelumnya (hadits nomor 1), yaitu perkataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

sebagaimana dalam riwayat Bukhari, dan

فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

sebagaimana dalam riwayat Muslim.

[3] HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (8/397 nomor 8237).

[4] HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/423), Ahmad dalam Al-Musnad (4/23), Daruquthni dalam Sunan-nya (2/163). Al-Hakim berkata,”Shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim.” Disepakati oleh Adz-Dzahabi.

[5] HR. Abu Dawud (2340 dan 2341).

[6] HR. Abu Dawud (2342). Dinilai shahih oleh Al-Albani.

[7] HR. Bukhari (1907) dan Muslim (1081).

[8] HR. Abu Dawud (2334); At-Tirmidzi (686); An-Nasa’i (2190); dan Ibnu Majah (1645). Abu ‘Isa At-Tirmidzi berkata,”Hadits hasan shahih.”

[9] Dan juga menambahkan dalam syariat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya serta berbuat bid’ah dalam agama yang tidak ada dalilnya dalam syariat, “Dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”

[10] Al-ilaa’ adalah sumpah suami untuk tidak menyetubuhi istrinya dalam jangka waktu tertentu.

[11] Majmu’ Fatawa (25/131, 132)

[12] Diterjemahkan dari: Ittihaaf Ahlil Imaan bi Duruusi Syahri Ramadhan, karya Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Daar ‘Ashimah Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1422, hal. 132-134.

___

Artikel Muslim.or.id

Suara Terompet dari Langit, Sangkakala?

Suara Terompet dari Langit

Assalamualaikum Ustadz, akhir akhir ini di media muncul berita tentang suara seperti terompet terdengar dari langit,apakah itu peringatan kecil bahwa kiamat sudah dekat atau hanya suara terompet biasa. mohon penjelasannya ustadz

Dari: Albarr Saputra

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kita akan mengenal beberapa dalil yang menyebutkan tentang tiupan sangkakala.

Dalam al-Quran, Allah menyebut sangkakala dengan as-Shur [الصُّورُ].

Secara bahasa as-Shur berarti tanduk. Sedangkan menurut istilah syariat, yang dimaksud as-Shur adalah sangkakala yang sangat besar yang akan ditiup malaikat yang bertugas untuk meniupnya. (Syarh Lum’atul I’tiqad, Imam Ibnu Utsaimin, hlm. 114)

Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa sangkakala yang ditiupkan bentuknya seperti terompet. Diantaranya,

Hadis dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

قَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الصُّورُ؟ قَالَ: قَرْنٌ يُنْفَخُ فِيهِ

Ada orang arab badui bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu as-Shur (sangkakala)?” Beliau menjawab, “Tanduk yang akan ditiup.” (HR. Ahmad 6507, Abu Daud 4744, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Juga disebutkan dalam hadis Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ

Bagaimana aku akan senang hidup di dunia, sementara pemegang sangkakala telah memasukkannya ke mulutnya. Dia memasang pendengaran menunggu diizinkan (meniupnya). Kapanpun dia diperintah meniupnya, dia akan meniupnya.” (HR. Turmudzi 2628, dan dishahihkan al-Albani)

Hanya Ditiupkan di Hari Kiamat

Terdapat banyak dalil dari al-Quran yang menunjukkan bahwa sangkakala akan ditiup pada awal terjadinya hari kiamat. Diantaranya,

Firman Allah,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab). (QS. az-Zumar: 68).

Demikian pula firman Allah,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (QS. Yasin: 51)

Dalam hadis yang panjang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan,

ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا ثُمَّ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا صَعِقَ ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ -شَكَّ الراوي- فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Kemudian ditiuplah sangkakala, tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali akan mengarahkan pendengarannya dan menjulurkan lehernya (memerhatikannya). Lalu, tidak tersisa seorangpun kecuali dia mati. Kemudian Allah menurunkan hujan seperti gerimis. Kemudian tumbuhlah jasad-jasad manusia setelah disirami. Lalu ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya, tiba-tiba mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan menanti (hisab).” (HR. Ahmad 6712 dan Muslim 7568).

Kita bisa perhatikan beberapa dalil di atas, bahwa yang terjadi ketika sangkakala itu ditiup ada dua,

Pertama, semua makhluk di langit dan di bumi akan mati kecuali yang dikehendaki Allah.

Kedua, terjadi kebangkitan dari alam kubur setelah mereka dihancurkan. Ini terjadi setelah tiupan kedua.

Hingga kini, malaikat petugas meniup sangkakala sedang menunggu perintah Allah. Dia selalu siaga kapan saja dia diperintahkan untuk meniup sangkakala.

Anda bisa simak keterangannya di: Sangkakala Sudah Berada di Mulut Malaikat

Berapa kali sangkakala ditiup?

Ulama berbeda pendapat tentang berapa kali sangkakala ditiupkan?

Pertama, sangkakala ditiupkan 3 kali

Jika kita rinci, 3 kali itu adalah

  1. Tiupan faza’ (tiupan yang membuat seisi alam kaget dan terkejut)

Allah berfirman,

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

“Dan (ingatlah) hari ketika ditiup sangkakala, terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (An-Naml: 87).

  1. Tiupan ash-Sha’q (tiupan mematikan dan membinasakan)

Allah berfirman,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ

Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. (QS. az-Zumar: 68).

  1. Tiupan al-Ba’ats (tiupan kebangkitan)

Allah berfirman,

ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab). (QS. az-Zumar: 68).

Pendapat ini didukung hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadis itu dinyatakan,

يَنْفُخُ فِيهِ ثَلَاثُ نَفَخَاتٍ، النَّفْخَةُ الْأُوْلَى نَفَخْةُ الْفَزَعِ، وَالثَّانِيَةُ نَفْخَةُ الصَّعْقِ، وَالثَّالِثَةُ نَفْخَةُ الْقِيَامِ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Malaikat itu meniup sangkakala tiga tiupan. Tiupan yang pertama mengejutkan. Tiupan kedua mematikan, dan tiupan ketiga membangkitan (makhluk) menghadap Rabbul ‘alamin.”

Hadis ini sangat panjang, diriwayatkan oleh at-Thabrani dalam al-Ahadits at-Thiwal, dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama, karena di sana ada perawi Ismail bin Rafi’ al-Madani yang dinilai dhaif oleh ad-Daruquthni.  Hingga al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan tentang status hadis ini, “Gharib jiddan” (sangat asing). (Tafsir Ibn Katsir, 3/287).

Mengingat hadis ini dhaif, maka tidak dijadikan dalil.

Pendapat Kedua, Sangkakala Ditiupkan 2 Kali

Dua tiupan itu:

  1. Tiupan al-Faza’ (kaget) sekaligus tiupan ash-Sha’q (mati)

Menurut al-Qurthubi, antara peristiwa al-Faza’ (kaget) dengan as-Sha’q (mati) berlangsung secara bersambung. Tidak ada jeda di sana. Sehingga ketika sangkakala ditiupkan, mereka kaget dan langsung binasa. kecuali siapa yang dikehendaki Allah.

  1. Tiupan al-Ba’ats

Kebangkitan terjadi setelah tiupan kedua.

Dan pendapat kedua ini yang lebih kuat. Sehingga kata faza’ (kaget) yang disebutkan di surat an-Naml dan kata as-Sha’q (mati) yang disebutkan di surat az-Zumar adalah sama. Tiupan pertama, yang mengagetkan dan menyebabkan semuanya mati.

Karena itu, Allah menyebut tiupan itu terjadi sekali. Lalu diikuti dengan kehancuran alam semesta.

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ .وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً

Apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur (QS. al-Haqqah: 13 – 14)

Al-Qurthubi mengatakan,

والصحيح أن النفخ في الصور أنهما نفختان لا ثلاث، وأن نفخة الفزع إنما تكون راجعة إلى نفخة الصعق لأن الأمرين لا زمان لهما أي فزعوا فزعا فماتوا منه

Yang benar, tiupan sangkakala terjadi dua kali, bukan tiga kali. Dan tiupan al-Faza’ (kaget) diikuti dengan as-Sha’aq (kematian). Karena kedua tiupan itu tidak ada waktu jedanya. Artinya, mereka kaget langsung mati. (Tafsir al-Qurthubi, 13/240)

Semua Terjadi di Hari Kiamat

Kami tegaskan sekali lagi, bahwa semua tiupan ini terjadi di akhir zaman. Baik pendapat yang mengatakan 3 kali tiupan atau dua kali tiupan, semua terjadi di akhir zaman. Karena itu menjadi batas terakhir kehidupan dunia.

Suara Terompet dari Langit

Kita tidak tahu dengan pasti sumber suara seperti terompet yang terdengar aneh di berbagai daerah. Yang jelas itu bukan sangkakala. Karena jika itu sangkakala, seharusnya semua permukaan bumi ini mendengarnya. Laporan yang ada, suara itu baru didengar oleh sebagian masyarakat di beberapa negara, diantaranya Australia, Amerika, Australia, Kanada dan Jerman. Masyarakat Indonesia, nyaman-nyaman saja, tidak mendengar suara itu.

Bukti lain bahwa itu bukan sangkakala, sebagaimana yang dilaporkan bahwa kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Ini pernah terjadi di tahun 2013, dan sebelumnnya lagi 2012. Sementara sangkakala ditiup dua kali disusul peristiwa besar kiamat.

Sebagian ahli menganalisis suara tersebut dan menemukan bahwa sebagian besar spektrum asal suara tersebut terletak dalam kisaran infrasonik, yang tidak terdengar oleh manusia. Frekuensi antara 17 Hz ke bawah. Manusia bisa mendengar suara pada frekuensi antara 20 Hz sampai 20.000 Hz.

Sementara apa yang didengar oleh manusia hanyalah sebagian kecil dari kekuataan sebenarnya dari suara-suara tersebut, karena adanya emisi akustik di frekuensi rendah dalam kisaran antara 20 Hz hingga 100 Hz yang dimodulasi (dikuatkan) oleh gelombang infrasonik ultra rendah 0,1 Hz sampai 15 Hz.

Namun apapun itu, bagi orang yang beriman, kita meyakini ini sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah. Dan terkadang Allah tunjukkan fenomena alam yang luar biasa, agar kita semakin takut kepada-Nya. Itulah tujuan utama ketika kita menyimak fenomena alam. Bukan hanya jadi bahan wacana dan perbincangan.

Allah berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآَيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

Aku tidak mengirim tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti. (QS. al-Isra: 59).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Masih Ada yang Puasa Tetapi Tidak Shalat

Sungguh merugi jika ada yang puasa tetapi tidak shalat.

Orang yang berpuasa dipersyaratkan adalah seorang muslim. Sedangkan meninggalkan shalat berarti melakukan suatu kekafiran. Artinya orang yang puasa tetapi tidak shalat sama saja tidak memenuhi persyaratan tadi.

Namun demikianlah pemahaman sebagian kita yang penting puasa. Yang penting bisa menahan lapar dan dahaga mulai dari Shubuh hingga Maghrib. Padahal tidak sesimpel itu kita ingin beribadah. Sebagaimana kalau kita ingin masuk kerja, ada persyaratan yang mesti kita penuhi. Puasa pun demikian.

Dalil yang menyatakan bahwa meninggalkan shalat itu dapat menyebabkan kekafiran adalah firman AllahTa’ala,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS. At Taubah: 11)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengaitkan persaudaraan seiman dengan mengerjakan shalat. Jika shalat tidak dikerjakan, bukanlah saudara seiman. Mereka bukanlah mu’min. Adapun sesama mu’min  itu bersaudara sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat: 10)

Firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ارْكَعُوا لَا يَرْكَعُونَ (48) وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ (49)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku’. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al Mursalat: 48-49).

Ayat di atas disebutkan setelah ayat,

كُلُوا وَتَمَتَّعُوا قَلِيلًا إِنَّكُمْ مُجْرِمُونَ

(Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Al Mursalat: 46).

Ayat di atas dimaksudkan bagi orang yang meninggalkan ruku’ yang dimaksud adalah meninggalkan shalat ketika telah diseru. Ancaman yang disebutkan dalam ayat bukanlah yang dimaksudkan untuk orang yang sekedar mendustakan. Namun yang dimaksud adalah bagi orang yang meninggalkan shalat, maka ia terkena ancaman seperti itu.[1]

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ صَلاَةً مَكْتُوبَةً مُتَعَمِّداً فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ

Barangsiapa meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, maka jaminan Allah akan terlepas darinya.” (HR. Ahmad 5: 238 dan Ibnu Majah no. 4034. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata,”Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad 5: 346, Tirmidzi no. 2621, An Nasa’i no. 464, Ibnu Majah no. 1079. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata, “Kami katakan, “Shalatlah kemudian tunaikanlah puasa”. Adapun jika engkau berpuasa namun tidak shalat, amalan puasamu akan tertolak karena orang kafir tidak diterima ibadah darinya.”[2]

Semoga Allah memberi hidayah.

Disusun di pagi hari penuh berkah di Pesantren DS, 9 Ramadhan 1435 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel RemajaIslam.Com

 

[1] Lihat penjelasan Ibnul Qayyim dalam Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha, hal. 28-34.

[2] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 17: 62. Pembahasan hukum meninggalkan shalat secara lengkap telah dibahas oleh penulis dalam buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?” yang diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta, tahun 2014.

8 Sifat Wanita Terbaik

Daripada menuntut terus persamaan gender, mending setiap wanita berusaha memiliki 8 sifat wanita terbaik berikut ini.
1- Menutup Aurat
Wanita terbaik itu menutup auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, menurut pendapat terkuat di antara pendapat para ulama.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 59).
Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur: 31).
2- Berbusana dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syar’i
Wanita yang menjadi idaman sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut ini yang kami sarikan dari berbagai dalil Al Qur’an dan As Sunnah.
Syarat pertama: Menutupi seluruh tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak tangan.
Syarat kedua: Bukan memakai pakaian untuk berhias diri.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33).
Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”
Syarat ketiga: Longgar, tidak ketat dan tidak tipis sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.
Syarat keempat: Tidak diberi wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Syarat kelima: Tidak menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,
لَعَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Bukhari no. 6834)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.(HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)
Inilah di antara beberapa syarat pakaian wanita yang harus dipenuhi. Inilah wanita yang pantas dijadikan kriteria.
3- Betah Tinggal di Rumah
Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).
Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan”.
Disebutkan bahwa ada orang yang bertanya kepada Saudah -istri Rasulullah-, “Mengapa engkau tidak berhaji dan berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh saudari-saudarimu (yaitu para istri Nabi yang lain, pent)?” Jawaban beliau, “Aku sudah pernah berhaji dan berumrah, sedangkan Allah memerintahkan aku untuk tinggal di dalam rumah”. Perawi mengatakan, “Demi Allah, beliau tidak pernah keluar dari pintu rumahnya kecuali ketika jenazahnya dikeluarkan untuk dimakamkan”. Sungguh moga Allah ridha kepadanya.
Ibnul ‘Arabi bercerita, “Aku sudah pernah memasuki lebih dari seribu perkampungan namun aku tidak menjumpai perempuan yang lebih terhormat dan terjaga melebihi perempuan di daerah Napolis, Palestina, tempat Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Selama aku tinggal di sana aku tidak pernah melihat perempuan di jalan saat siang hari kecuali pada hari Jumat. Pada hari itu para perempuan pergi ke masjid untuk ikut shalat Jumat sampai masjid penuh dengan para perempuan. Begitu shalat Jumat berakhir mereka segera pulang ke rumah mereka masing-masing dan aku tidak melihat satupun perempuan hingga hari Jumat berikutnya”.
Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا”
“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”. (HR Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumah kecuali dengan izin suaminya.” Beliau juga berkata, “Bila si istri keluar rumah suami tanpa izinnya berarti ia telah berbuat nusyuz (pembangkangan), bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta pantas mendapatkan siksa.” (Majmu’ Al-Fatawa, 32: 281)
4- Memiliki Sifat Malu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ
“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.)
Kriteria ini juga semestinya ada pada setiap wanita. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria. Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Cobalah perhatikan contoh yang bagus dari wanita di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24)
“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS. Qashash: 23-24). Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!
Tidak cukup sampai di situ kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah bagaimana sifat mereka tatkala datang untuk memanggil Musa ‘alaihis salaam; Allah melanjutkan firman-Nya,
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.‘” (QS. Al Qashash : 25)
Ayat yang mulia ini,menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu. Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat.
Amirul Mukminin Umar bin Khoththob rodiyallohu ‘anhu mengatakan, “Gadis itu menemui Musa ‘alaihis salaam dengan pakaian yang tertutup rapat, menutupi wajahnya.” Sanad riwayat ini shahih.
5- Taat dan Menyenangkan Hati Suami
Istri yang taat pada suami, senang dipandang dan tidak membangkang yang membuat suami benci, itulah sebaik-baik wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Begitu pula tempat seorang wanita di surga ataukah di neraka dilihat dari sikapnya terhadap suaminya, apakah ia taat ataukah durhaka.
Al Hushoin bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)
6- Menjaga Kehormatan, Anak dan Harta Suami
Allah Ta’ala berfirman,
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada” (QS. An Nisa’: 34).
Ath Thobari mengatakan dalam kitab tafsirnya (6: 692), “Wanita tersebut menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.”
7- Bersyukur dengan Pemberian Suami
Seorang istri harus pandai-pandai berterima kasih kepada suaminya atas semua yang telah diberikan suaminya kepadanya. Bila tidak, si istri akan berhadapan dengan ancaman neraka Allah Ta’ala.
Seselesainya dari shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,
وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907). Lihatlah bagaimana kekufuran si wanita cuma karena melihat kekurangan suami sekali saja, padahal banyak kebaikan lainnya yang diberi. Hujan setahun seakan-akan terhapus dengan kemarau sehari.
8- Berdandan dan Berhias Diri Hanya Spesial untuk Suami
Sebagian istri saat ini di hadapan suami bergaya seperti tentara, berbau arang (alias: dapur) dan jarang mau berhias diri. Namun ketika keluar rumah, ia keluar bagai bidadari. Ini sungguh terbalik. Seharusnya di dalam rumah, ia berusaha menyenangkan suami. Demikianlah yang dinamakan sebaik-baik wanita.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Semoga bermanfaat bagi setiap wanita. Moga Allah memberi taufik untuk mengamalkannya.

Disusun di Panggang, Gunungkidul, 21 Jumadats Tsaniyyah 1435 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id