Berita Terkini

Tag Archives: MASJID RAUDHATUL JANNAH

DONOR DARAH DI MASJID RAUDHATUL JANNAH

DONOR DARAH AKRILIK

TABLIGH AKBAR KEMANUSIAAN-KEPADAMU DUNIA

WhatsApp Image 2018-02-02 at 9.26.42 AM

DAUROH USTADZ ABDULLAH ZAEN, MA

brosur terbaru copy

DAUROH USTADZ Dr. ALI MUSRI SEMJAN PUTRA, MA

brosur terbaru copy

PENDALAMAN MAKNA SURAT AL-MA’UN

Pendalaman Makna Surat Al Ma’un

Kata الْمَاعُونَ dalam terjemahan umumnya diartikan barang-barang yang berguna, maka selalu diartikan sebagai benda-benda berharga semisal uang, emas dan sejenisnya, padahal sesungguhnya makna sebenarnya adalah barang-barang berguna untuk keperluan rumah tangga. Seperti pisau dapur, panci, jarum dan sejenisnya.

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيم
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾

1. Diawali أَرَأَيْتَ terdiri dari tiga kata, أ apakah, َرَأَيْ melihat dan ْتَ kamu. الَّذِي yang, يُكَذِّبُ mendustakan, بِالدِّينِ terdiri dari dua kata, ب dengan dan دِّينِ hari pembalasan. Ada juga yang mengartikan agama.

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾

2. Kata فَذَٰلِكَ terdiri dua kata ف maka dan ذَٰلِكَ itu, الَّذِي orang yang, يَدُعُّ arti sebenarnya mendorong dengan keras yang lebih dekat dengab meyakiti secara fisik, الْيَتِيمَ anak yatim.

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣﴾

3. Kata وَلَا dan tidak, يَحُضُّ menganjurkan atau mengajak, عَلَىٰ atas, طَعَامِ makanan artinya memberi makan, الْمِسْكِينِ orang miskin.
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾

4. Diawali فَوَيْلٌ maka celakalah, لِّلْمُصَلِّينَ , terdiri dari dua kata, ل untuk dan لْمُصَلِّينَ orang yang sholat.

الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ 

5. Orang yang الَّذِينَ, kemudian هُمْ mereka, عَن dari, صَلَاتِهِمْ sholat mereka, سَاهُونَ orang-orang yang lalai atau tak peduli. Termasuk yang menunda-nunda sholat.

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ﴿٦﴾

6. Kata الَّذِينَ orang yang, هُمْ mereka,يُرَاءُونَ orang-orang yang riya.
☡ Waspada, jangan sampai ada perbedaan mencolok bacaan saat sholat dengan bacaan pelan atau siir dengan saat bacaan kuat. Jika berbeda, bisa jadi merupakan pertanda adanya riya di hati kita.

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ﴿﴾٧ 

7. Diawali وَيَمْنَعُونَ dan mereka menghalangi, الْمَاعُونَ alat-alat rumah tangga (untuk dimanfaatkan atau dilinjamkan orang lain).*

✳ Taklim Ust Maududi Abdullah, Lc di Masjid RJ, Selasa 22 Robiul Akhir 1439/ 9 Januari 2018

➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖

Tanpa Tauhid Musnah Islam dan Ketaatan

Tanpa Tauhid Musnah Islam dan Ketaatan

☝☝☝☝☝☝☝☝

Taklim Ustadz:
Maududi Abdullah, Lc
Masjid Raudhatul Jannah
⏰ Sabtu, 5 Robiul Akhir 1439/ 23 Desember 2017.

——————————-
✔ Tauhid dalam Islam bersifat mutlak. Tidak bisa ditawar. Posisi tauhid seperti wudhu dalam sholat. Tanpa menghilangkan hadast , sholat menjadi percuma dan menjadi dosa.
– Musuh tauhid adalah syirik.
Jika ada syirik, sudah pasti tauhid musnah. Jika diibaratkan tauhid itu sebagai susu murni yang mendatangkan banyak kebaikan, maka syirik itu seperti kotoran manusia. Sebanyak apapun susu ketika dicampur kotoran manusia, maka menjadi sampah.
– Mengingat mutlak tauhid dalam Islam, maka harus diupayakan dan dijaga. Selain itu, juga harus selalu diminta kepada Allah. Sebagaimana para nabi juga tiada henti minta perlindungan Allah dari kesyirikan.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آَمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala (shonam).” (QS. Ibrahim: 35).

✔ Mengingat teramat mutlaknya tauhid pada Islam, maka adalah sangat wajib tiada henti menjaganya. Lalu, menjadikan tauhid nasehat yang paling utama kepada istri, anak dan karib-kerabat. Mengusahakan bertauhid secara berjamaah.
– Karena mulianya nasehat tauhid pada kekuarga, maka Allah memuji Lukmanul Hakim saat menasehati anaknya agar menjauhi syirik.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).

❎ Syirik adalah seperti racun bagi tubuh. Sesehat apapun tubuh ketika dimasuki racun sekecil apapun, jika tidak segera tertolong, maka kebinasaan yang akan menjadi akhir.
– Padahal syirik lebih berbahaya dari racun. Sebab, jika racun hanya membinasakan badan di dunia, sementara syirik menjadi penghancur akhirat.

Pemusnah harapan keselamatan di Hari Pembalasan. Sekecil apapun kesyirikan dalam hati jadi penolak ampunan Allah. Siapapun yang dosanya tak diampuni, maka haram masuk surga.

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)

❎ Jalan akhirat pemilik kesyirikan seluruhnya siksa dan nista, meskipun teman berkumpulnya kelak adalah mereka yang super mulia dan berkuasa di dunia. Seperti Fir’aun, Namrud dan mereka semua yang kafir dan menyombongkan diri.

❎ Yakinlah! Imanilah! Percayalah! Bahwa kesyirikan menjadi sebab kekekalan di neraka. Siapapun yang tercemat tauhidnya dan belum ditaubati lalu terbawa mati, maka tempatnya di akhirat adalah seburuk-buruk tempat. Neraka Jahanam! Tidak sekedar sebentar, melainkan selamanya. Kurun yang tiada batas. Abadi!*

Pentingnya Hijrah di Jalan Allah

✔ Hijrah kerap maknanya disempitkan sebagai peristiwa pindahnya Nabi Muhammad didampingi Abu Bakar dari Mekkah ke Madinah. Sehingga, seolah hijrah dalam Islam sekedar sejarah. Masa lampau yang tak lagi bisa diamalkan.
– Padahal, hijrah adalah salah satu syariat dan belum dihapus. Merupakan solusi dari Allah untuk situasi tertentu. Di saat tempat tinggal kita, lingkungan yang ada tak memberi ruang untuk mengimani dan mengibadahi Allah. Maka, sampai kapanpum hijrah bisa dilakukan, selagi dengan tujuan menuju tempat yang menjadikan iman dan ketaatan menjadi lebih baik.
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” [An-Nisaa/4 : 100]

✔ Bahkan, juga dinamakan hijrah, ketika tidak terjadi perpindahan tempat secara fisik, tetapi terjadi pergeseran dari kesesatan pada petunjuk. Dari maksiat pada ketaatan. Dari bid’ah pada sunnah. Dari kesyirikan menuju tauhid.

✔ Bahkan, hjjrah dalam situasi tertentu, diperintahkan Allah untuk disegerakan. Tidak boleh ditunda. Harus dilakukan secepat mungkin. Sebelum semua terlambat, ketika kematian datang menjemput.

وَسَارِعُوْا اِلىَ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجنَّةٍ عَرْضُهَا السَّموتُ وَالاَرْضُ

اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ ]ال عمران:133[

“Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan bersegeralah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS: Ali Imran; 133).*

➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖

Penyelenggaraan Khitanan Di Masjid Raudhatul Jannah

Alhamdulillah telah diselenggarakan khitanan masal di masjid raudhatul jannah
⏰ Waktu: 23 Desember 2017 M / 04 Rabi’ul Tsani 1439 H
Jam 07.00 Pagi
Tempat : Masjid Raudhatul Jannah.
Jl Tuanku Tambusai/nangka

sunatBerkhitan (ada yang menyebutnya dengan ‘sunat’,-pen) adalah memotong kulit yang menutupi kepala/ujung kemaluan bagi laki-laki dan memotong kulit bagian atas kemaluan bagi perempuan. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, I/98). Tujuan Khitan Tujuan khitan adalah untuk menjaga agar di sana tidak terkumpul kotoran, juga agar leluasa untuk kencing, dan supaya tidak mengurangi kenikmatan dalam bersenggama. (Fiqh Sunnah, 1/37) Berkhitan adalah sunnah yang telah ada sejak lama sekali Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَ ثَمَانِينَ سَنَةً وَاخْتَتَنَ بِالْقَدُومِ “Ibrahim berkhitan setelah mencapai usia 80 tahun, dan beliau berkhitan dengan Al Qodum.” (HR. Bukhari, inilah lafadz yang terdapat dalam Shahih Bukhari yang berbeda dalam kitab Fiqh Sunnah, -pen).

Syaikh Sayid Sabiq mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al Qodum di sini adalah alat untuk memotong kayu (kampak) atau suatu nama daerah di Syam. (Lihat Fiqh Sunnah, 1/37) Hukum khitan Ada 3 pendapat dalam hal ini :
1. Wajib bagi laki-laki dan perempuan 2. Sunnah (dianjurkan) bagi laki-laki dan perempuan 3. Wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi perempuan (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, I /98)

Wajibnya khitan bagi laki-laki Dalil yang menunjukkan tentang wajibnya khitan bagi laki-laki adalah : 1. Hal ini merupakan ajaran dari Nabi terdahulu yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan kita diperintahkan untuk mengikutinya.
Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,“Ibrahim -Al Kholil- berkhitan setelah mencapai usia 80 tahun, dan beliau berkhitan dengan kampak.” (HR. Bukhari)
Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (An Nahl : 123)

2. Nabi memerintah laki-laki yang baru masuk Islam dengan sabdanya,” أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ Hilangkanlah rambut kekafiran yang ada padamu dan berkhitanlah.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi, dan dihasankan oleh Al Albani). Hal ini menunjukkan bahwa khitan adalah wajib.
3. Khitan merupakan pembeda antara kaum muslim dan Nashrani. Sampai-sampai tatkala di medan pertempuran umat Islam mengenal orang-orang muslim yang terbunuh dengan khitan. Kaum muslimin, bangsa Arab sebelum Islam, dan kaum Yahudi dikhitan, sedangkan kaum nashrani tidak demikian. Karena khitan sebagai pembeda, maka perkara ini adalah wajib.
4. Menghilangkan sesuatu dari tubuh tidaklah diperbolehkan. Dan baru diperbolehkan tatkala perkara itu adalah wajib. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, I /99 dan Asy Syarhul Mumthi’, I/110) Khitan tetap disyari’atkan bagi perempuan Adapun untuk perempuan, khitan tetap disyari’atkan.
Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,”Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.” (HR. Ibnu Majah, shahih). Hadits ini menunjukkan bahwa perempuan juga dikhitan. Adapun hadits-hadits yang mewajibkan khitan, di dalamnya tidaklah lepas dari pembicaraan, ada yang dianggap dha’if (lemah) dan munkar. Namun hadits-hadits tersebut dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah.

Jika hadits ini dha’if, maka khitan tetap wajib bagi perempuan sebagaimana diwajibkan bagi laki-laki, karena pada asalnya hukum untuk laki-laki juga berlaku untuk perempuan kecuali terdapat dalil yang membedakannya dan dalam hal ini tidak terdapat dalil pembeda. Namun terdapat pendapat lain yang mengatakan bahwa khitan bagi perempuan adalah sunnah (dianjurkan) sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka. Pendapat ini sebagaimana yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya Asy Syarhul Mumthi’. Beliau mengatakan, ”Terdapat perbedaan hukum khitan antara laki-laki dan perempuan. Khitan pada laki-laki terdapat suatu maslahat di dalamnya karena hal ini akan berkaitan dengan syarat sah shalat yaitu thoharoh (bersuci). Jika kulit pada kemaluan yang akan dikhitan tersebut dibiarkan, kencing yang keluar dari lubang ujung kemaluan akan ada yang tersisa dan berkumpul pada tempat tersebut. Hal ini dapat menyebabkan rasa sakit/pedih tatkala bergerak dan jika dipencet/ditekan sedikit akan menyebabkan kencing tersebut keluar sehingga pakaian dapat menjadi najis. Adapun untuk perempuan, tujuan khitan adalah untuk mengurangi syahwatnya. Dan ini adalah suatu bentuk kesempurnaan dan bukanlah dalam rangka untuk menghilangkan gangguan.” (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, I/99-100 dan Asy Syarhul Mumthi’, I/110) Kesimpulan : Ada perbedaan pendapat tentang hukum khitan bagi perempuan. Minimal hukum khitan bagi perempuan adalah sunnah (dianjurkan) dan yang paling baik adalah melakukannya dengan tujuan sebagaimana perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin di atas yaitu untuk mengurangi syahwatnya. Dianjurkan melakukan khitan pada hari ketujuh setelah kelahiran
Hal ini sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqah Hasan dan Husain dan mengkhitan mereka berdua pada hari ketujuh (setelah kelahiran,-pen).” (HR. Ath Thabrani dalam Ash Shogir)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,”Ada tujuh sunnah bagi bayi pada hari ketujuh, yaitu : pemberian nama, khitan, …” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath)

Kedua hadits ini memiliki kelemahan, namun saling menguatkan satu dan lainnya. Jalur keduanya berbeda dan tidak ada perawi yang tertuduh berdusta di dalamnya. (Lihat Tamamul Minnah, 1/68)
Adapun batas maksimal usia khitan adalah sebelum baligh. Sebagaimana perkataan Ibnul Qoyyim : “Orang tua tidak boleh membiarkan anaknya tanpa dikhitan hingga usia baligh.” (Lihat Tamamul Minnah, 1/69)

Sangat baik sekali jika khitan dilakukan ketika anak masih kecil agar luka bekas khitan cepat sembuh dan agar anak dapat berkembang dengan sempurna. (Lihat Al Mulakkhos Al Fiqh, 37). Selain itu, khitan pada waktu kecil akan lebih menjaga aurat, dibanding jika dilakukan ketika sudah besar. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

a

Pendalaman Makna Surat AL-KAUTSAR

Pendalam Makna سُوْرَةُ الكَوْثَرِ

Ustadz Maududi Abdullah, Lc
Masjid Raudhatul Jannah
Selasa 1 Robiul Akhir 1439/ 19 Desember 2017.
✍✍✍✍✍✍✍✍ ﷽

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
Seaungguhnya kami memberimu Al Kawtsar

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Maka sholatlah dan menyembelilhlahlah

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus

1. Diawali إِنَّا berarti sesungguhnya kami, أَعْطَيْنَاكَ terdiri dari tiga kata, yaitu أَعْطَي memberi, نَا kami dan كَ kamu, الْكَوْثَرَ nama salah satu sungai di surga.
– Sebagian ulama mengartikan الْكَوْثَرَ kebaikan-kebaikan. Hal itu dikarenakan di sungai الْكَوْثَرَ di dalam surga terdapat banyak kebaikan.

2. Kata فَصَلِّ terdiri dari dua suku kata, ف maka dan َصَلِّ sholatlah, demikian juga dengan لِرَبِّكَ terdiri dari tiga kata, ل untuk, رَبِّ Tuhan, ِّكَ kamu, وَانْحَرْ dan menyembelihlah.
– Ini perintah tegas agar hanya mendirikan sholat semata karena Allah. Iklas. Tidak boleh sholat dengan alasan apapun, selain untuk Allah.

❎ Seperti sholat demi pujian mahluk atau sholat demi mempertahankan ilmu kebal dan lain sebagaianya.

3. Kata إِنَّ sesungguhnya, شَانِئَك terdiri dari dua kata, شَانِئ orang yang membenci dan ك َ kamu, هُوَ dia, الْأَبْتَرُ terputus.

– Orang kafir Quraisy menyebut Nabi Muhammad الْأَبْتَرُ, seperti Abu Jahal dan paman Nabi Abu Lahab. Karena itu, lewat ayat ini Allah membantah sebutan tersebut.
– Terputus oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai tak tersambung dengan kebaikan. Sebagian lagi mentafsirkan bahwa terputus berarti setelah mati tak dibicarakan orang lagi.

Catatan:
✔ Mengenai Al Kawtsar Rosul menjelaskan:
فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ

“Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah melakukan amalan baru sesudahmu.” (HR. Muslim, no. 400).

– Sebagian riwayat menyebutkan Sungai Al Kawtsar yang mengaliri air ke Telaga Nabi pada hari kebangkitan. Di telaga inilah umat Nabi Muhammad akan diberi minum. Begitu minum air Telaga Nabi maka hilang dahaga selamanya.
– Sebagaimana pada akhir hadist di atas juga dikabarkan, akan ada umat Nabi yang akan diusir dari Telaga Nabi. Dijelaskan, mereka adalah yang berwudhu dan sholat, namun juga mengerjakan amalan yang baru. Amal yang tidak dicontohkan atau diperintahkan Nabi Muhammad. Bid’ah!*

Kiat dan Langkah-langkah Meraih Cinta Allah

Kiat dan Langkah-langkah Meraih Cinta Allah

❤❤❤❤❤❤❤❤

Ustadz : Ahmad Doni

Masdjid Raudhatul Jannah

4 Robiul Akhir 1439/ 21 Desember 2017

✔Al Imam Ibnu Qoyim Al Jauziyah dalam Kitab Madarijus Salikin menyebut sejumlah sebab hamba mendapatkan cinta Allah. Antara lain:

1. Membaca Al Qur’an dengan mengetahui dan memahami makna yang terkandung di dalamnya.

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.(Shaad 29)

– Selain itu, teramat besar fadilah membaca Al Qur’an. Salah satunya adalah 10 pahala untuk setial huruf. Sulit mengira dengan pasti berapa besar pahala membaca satu lembar Al Qur’an. Terlebih lagi jika satu juz atau lebih.

2. Memperbanyak ibadah sunnah setelah ibadah wajib.
– Usai sholat 5 waktu, lengkapi dengan sholat-sholat sunnah.
-Usai puasa Ramadhan, perbanyak puasa sunnah.
– Usai membayar zakat wajib, lanjutkan dengan zakat sunnah seperti sedekah dan sejenisnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku semakin mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.”.

3. Mengingat Allah dalam kondisi apapun dan di manapun.
– Berdzikir dalam bentuk apapun adalah merupakan bukti selalu mengingat Allah. Situasi yang harus dijaga dan selalu ada pada diri kita. Setiap saat. Cara terbaik adalah dengan membaca doa-doa yang diajarkan Rosul untuk setial kegiatan. Seperti doa hendak tidur atau bangun tidur.
– Semakin banyak mengingat Allah, maka semakin banyak kita diingat Allah.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al Baqarah: 152).

4. Memdahulukan Allah dari hawa nafsu.
– Ukuran kecintaan kita pada Allah ketika semua yang kita lakukan selalu ditimbang dengan keridhoan Allah.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. (An Naziat 40)

– Kecintaan pada Allah menjadi pembatas kuat kita dari mengerjakan apapun yang tak diridhoi-Nya.*

Cara Dicintai Allah dan Disayangi Manusia

Cara Dicintai Allah dan Disayangi Manusia
➖➖➖➖➖➖➖➖

Kajian Rutin:
Ustadz: Abdurrahman Keken, Lc
Masjid Raudhatul Jannah
Selasa 25 Robiul Awal 1439/12 Desember 2017.

✔ Nabi Muhammad sholallohu alaihi wassalam memberi kiat jitu. Cara meraih cinta Allah dan disayangi manusia.

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، دُلَّنِيْ عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْـتُـهُ أَحَبَّنِيَ اللَّهُ، وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ. فَقَالَ: “اِزْهَدْ فِيْ الدُّنْـيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ.” رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَهُ وَسَنَدُهُ حَسَنٌ.

Dari Sahl bin Sa’ad Radiyallahu anhu ia berkata: Seorang sahabat menemui Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang jika aku lakukan, aku akan dicintai oleh Allah dan manusia.” Beliau bersabda: “Zuhudlah dari dunia, niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah dari apa yang ada pada manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad yang hasan).

↔ Ibnu Taimiyah memberi definisi zuhud:
– Meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi kita di akhirat.
– Meninggalkan apapun yang melaikan kita dari akhirat.

✔ Hadist ini memberikan sejumlah pelajaran.
1. Allah punya cinta.
– Kecintaan Allah bisa pada tempat, seperti masjid, bisa pada amalan, seperti sholat di awal waktu. Cinta Allah juga bisa pada manusia, seperti mereka yang zuhud dari dunia, sebagaimana diajar Nabi dalam hadist di atas.
2. Cinta Allah harus diusahakan
– Mengharapkan cinta Allah tidak bisa pasif. Sekedar menunggu. Tapi harus diusahakan.
3. Boleh mengharapkan cinta manusia.
– Tidak dilarang mengharapkan dan mengusahakan mendapat cinta manusia, selagi caranya tidak bertetangan dengan srariat. Rosul mengajarkan cara meraih cinta manusia dengan zuhud atau tidak menginginkan apa yang ada di tangan orang lain.

✔ Selain zuhud pada dunia, ada sejumlah amal yang juga bisa menjadi jalan meraih cinta Allah. Seperti disampaikan Nabi dalam hadist berikut ini:
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِيْ وَقَّاصٍ رضي الله عنه قاَلَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: “إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الخَفِيَّ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radiyallahu anhu ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertaqwa, yang merasa cukup, dan yang rajin beribadah secara diam-diam.” (HR. Muslim).

↔ Mereka adalah orang-orang yang bertakwa. Tak sekedar iman, tapi juga mentaati perintah Allah dan meninggalkan larangannya.
– Kedua, orang kaya dalam artian merasa cukup dengan yang Allah bagikan kepadanya.
– Ketiga, mereka yang ketaatannya tersembunyi. Ibadahnya hanya ingin diketahui Allah. Sikap ini tidak berlaku untuk ibadah-ibadah wajib, seperti sholat berjamaah bagi pria, zakat dan haji. Ibadah jenis itu mustahil disembunyikan.*