Berita Terkini

Tag Archives: masjid pekanbaru

Penyelenggaraan Khitanan Di Masjid Raudhatul Jannah

Alhamdulillah telah diselenggarakan khitanan masal di masjid raudhatul jannah
⏰ Waktu: 23 Desember 2017 M / 04 Rabi’ul Tsani 1439 H
Jam 07.00 Pagi
Tempat : Masjid Raudhatul Jannah.
Jl Tuanku Tambusai/nangka

sunatBerkhitan (ada yang menyebutnya dengan ‘sunat’,-pen) adalah memotong kulit yang menutupi kepala/ujung kemaluan bagi laki-laki dan memotong kulit bagian atas kemaluan bagi perempuan. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, I/98). Tujuan Khitan Tujuan khitan adalah untuk menjaga agar di sana tidak terkumpul kotoran, juga agar leluasa untuk kencing, dan supaya tidak mengurangi kenikmatan dalam bersenggama. (Fiqh Sunnah, 1/37) Berkhitan adalah sunnah yang telah ada sejak lama sekali Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَ ثَمَانِينَ سَنَةً وَاخْتَتَنَ بِالْقَدُومِ “Ibrahim berkhitan setelah mencapai usia 80 tahun, dan beliau berkhitan dengan Al Qodum.” (HR. Bukhari, inilah lafadz yang terdapat dalam Shahih Bukhari yang berbeda dalam kitab Fiqh Sunnah, -pen).

Syaikh Sayid Sabiq mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al Qodum di sini adalah alat untuk memotong kayu (kampak) atau suatu nama daerah di Syam. (Lihat Fiqh Sunnah, 1/37) Hukum khitan Ada 3 pendapat dalam hal ini :
1. Wajib bagi laki-laki dan perempuan 2. Sunnah (dianjurkan) bagi laki-laki dan perempuan 3. Wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi perempuan (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, I /98)

Wajibnya khitan bagi laki-laki Dalil yang menunjukkan tentang wajibnya khitan bagi laki-laki adalah : 1. Hal ini merupakan ajaran dari Nabi terdahulu yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan kita diperintahkan untuk mengikutinya.
Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,“Ibrahim -Al Kholil- berkhitan setelah mencapai usia 80 tahun, dan beliau berkhitan dengan kampak.” (HR. Bukhari)
Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (An Nahl : 123)

2. Nabi memerintah laki-laki yang baru masuk Islam dengan sabdanya,” أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ Hilangkanlah rambut kekafiran yang ada padamu dan berkhitanlah.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi, dan dihasankan oleh Al Albani). Hal ini menunjukkan bahwa khitan adalah wajib.
3. Khitan merupakan pembeda antara kaum muslim dan Nashrani. Sampai-sampai tatkala di medan pertempuran umat Islam mengenal orang-orang muslim yang terbunuh dengan khitan. Kaum muslimin, bangsa Arab sebelum Islam, dan kaum Yahudi dikhitan, sedangkan kaum nashrani tidak demikian. Karena khitan sebagai pembeda, maka perkara ini adalah wajib.
4. Menghilangkan sesuatu dari tubuh tidaklah diperbolehkan. Dan baru diperbolehkan tatkala perkara itu adalah wajib. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, I /99 dan Asy Syarhul Mumthi’, I/110) Khitan tetap disyari’atkan bagi perempuan Adapun untuk perempuan, khitan tetap disyari’atkan.
Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,”Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.” (HR. Ibnu Majah, shahih). Hadits ini menunjukkan bahwa perempuan juga dikhitan. Adapun hadits-hadits yang mewajibkan khitan, di dalamnya tidaklah lepas dari pembicaraan, ada yang dianggap dha’if (lemah) dan munkar. Namun hadits-hadits tersebut dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah.

Jika hadits ini dha’if, maka khitan tetap wajib bagi perempuan sebagaimana diwajibkan bagi laki-laki, karena pada asalnya hukum untuk laki-laki juga berlaku untuk perempuan kecuali terdapat dalil yang membedakannya dan dalam hal ini tidak terdapat dalil pembeda. Namun terdapat pendapat lain yang mengatakan bahwa khitan bagi perempuan adalah sunnah (dianjurkan) sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka. Pendapat ini sebagaimana yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya Asy Syarhul Mumthi’. Beliau mengatakan, ”Terdapat perbedaan hukum khitan antara laki-laki dan perempuan. Khitan pada laki-laki terdapat suatu maslahat di dalamnya karena hal ini akan berkaitan dengan syarat sah shalat yaitu thoharoh (bersuci). Jika kulit pada kemaluan yang akan dikhitan tersebut dibiarkan, kencing yang keluar dari lubang ujung kemaluan akan ada yang tersisa dan berkumpul pada tempat tersebut. Hal ini dapat menyebabkan rasa sakit/pedih tatkala bergerak dan jika dipencet/ditekan sedikit akan menyebabkan kencing tersebut keluar sehingga pakaian dapat menjadi najis. Adapun untuk perempuan, tujuan khitan adalah untuk mengurangi syahwatnya. Dan ini adalah suatu bentuk kesempurnaan dan bukanlah dalam rangka untuk menghilangkan gangguan.” (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, I/99-100 dan Asy Syarhul Mumthi’, I/110) Kesimpulan : Ada perbedaan pendapat tentang hukum khitan bagi perempuan. Minimal hukum khitan bagi perempuan adalah sunnah (dianjurkan) dan yang paling baik adalah melakukannya dengan tujuan sebagaimana perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin di atas yaitu untuk mengurangi syahwatnya. Dianjurkan melakukan khitan pada hari ketujuh setelah kelahiran
Hal ini sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqah Hasan dan Husain dan mengkhitan mereka berdua pada hari ketujuh (setelah kelahiran,-pen).” (HR. Ath Thabrani dalam Ash Shogir)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,”Ada tujuh sunnah bagi bayi pada hari ketujuh, yaitu : pemberian nama, khitan, …” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath)

Kedua hadits ini memiliki kelemahan, namun saling menguatkan satu dan lainnya. Jalur keduanya berbeda dan tidak ada perawi yang tertuduh berdusta di dalamnya. (Lihat Tamamul Minnah, 1/68)
Adapun batas maksimal usia khitan adalah sebelum baligh. Sebagaimana perkataan Ibnul Qoyyim : “Orang tua tidak boleh membiarkan anaknya tanpa dikhitan hingga usia baligh.” (Lihat Tamamul Minnah, 1/69)

Sangat baik sekali jika khitan dilakukan ketika anak masih kecil agar luka bekas khitan cepat sembuh dan agar anak dapat berkembang dengan sempurna. (Lihat Al Mulakkhos Al Fiqh, 37). Selain itu, khitan pada waktu kecil akan lebih menjaga aurat, dibanding jika dilakukan ketika sudah besar. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

a

Pendalaman Makna Surat AL-KAUTSAR

Pendalam Makna سُوْرَةُ الكَوْثَرِ

Ustadz Maududi Abdullah, Lc
Masjid Raudhatul Jannah
Selasa 1 Robiul Akhir 1439/ 19 Desember 2017.
✍✍✍✍✍✍✍✍ ﷽

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
Seaungguhnya kami memberimu Al Kawtsar

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Maka sholatlah dan menyembelilhlahlah

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus

1. Diawali إِنَّا berarti sesungguhnya kami, أَعْطَيْنَاكَ terdiri dari tiga kata, yaitu أَعْطَي memberi, نَا kami dan كَ kamu, الْكَوْثَرَ nama salah satu sungai di surga.
– Sebagian ulama mengartikan الْكَوْثَرَ kebaikan-kebaikan. Hal itu dikarenakan di sungai الْكَوْثَرَ di dalam surga terdapat banyak kebaikan.

2. Kata فَصَلِّ terdiri dari dua suku kata, ف maka dan َصَلِّ sholatlah, demikian juga dengan لِرَبِّكَ terdiri dari tiga kata, ل untuk, رَبِّ Tuhan, ِّكَ kamu, وَانْحَرْ dan menyembelihlah.
– Ini perintah tegas agar hanya mendirikan sholat semata karena Allah. Iklas. Tidak boleh sholat dengan alasan apapun, selain untuk Allah.

❎ Seperti sholat demi pujian mahluk atau sholat demi mempertahankan ilmu kebal dan lain sebagaianya.

3. Kata إِنَّ sesungguhnya, شَانِئَك terdiri dari dua kata, شَانِئ orang yang membenci dan ك َ kamu, هُوَ dia, الْأَبْتَرُ terputus.

– Orang kafir Quraisy menyebut Nabi Muhammad الْأَبْتَرُ, seperti Abu Jahal dan paman Nabi Abu Lahab. Karena itu, lewat ayat ini Allah membantah sebutan tersebut.
– Terputus oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai tak tersambung dengan kebaikan. Sebagian lagi mentafsirkan bahwa terputus berarti setelah mati tak dibicarakan orang lagi.

Catatan:
✔ Mengenai Al Kawtsar Rosul menjelaskan:
فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ

“Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah melakukan amalan baru sesudahmu.” (HR. Muslim, no. 400).

– Sebagian riwayat menyebutkan Sungai Al Kawtsar yang mengaliri air ke Telaga Nabi pada hari kebangkitan. Di telaga inilah umat Nabi Muhammad akan diberi minum. Begitu minum air Telaga Nabi maka hilang dahaga selamanya.
– Sebagaimana pada akhir hadist di atas juga dikabarkan, akan ada umat Nabi yang akan diusir dari Telaga Nabi. Dijelaskan, mereka adalah yang berwudhu dan sholat, namun juga mengerjakan amalan yang baru. Amal yang tidak dicontohkan atau diperintahkan Nabi Muhammad. Bid’ah!*

APAKAH SURGA DAN NERAKA ITU SUDAH ADA PENGHUNINYA ATAU BELUM

APAKAH SURGA DAN NERAKA ITU SUDAH ADA PENGHUNINYA ATAU BELUM

Sebelum menjawab hal itu maka poin yang paling penting dahulu yaitu Surga & Neraka itu sudah ada sekarang. Jadi bukanlah sesuatu yang diciptakan Allah Subhanahu wata’ala nanti.
Oleh karena itu ketika Allah berbicara surga dan neraka di dalam Alqur’an, Allah Subhanahu wata’ala sering mengatakan “U’iddats(Telah disiapkan/disediakan)”. Berarti Surga & Neraka telah ada dan sudah disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.
Dan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wasallam juga pernah melihat Surga & Neraka. Juga bukti bahwa surga & Neraka sudah ada dan telah disiapkan.

Lalu pertanyaannya apakah sudah ada penghuninya ?. Dalam Alquran Surat Ghafir Ayat ke 46 : Allah berfirman “Neraka dimana firaun dan bala tentaranya dimasukkan kedalamnya di setiap pagi dan petang, dan pada hari kiamat terjadi, Allah akan berkata, masukkan firaun dan tentara kepada adzab yang lebih pedih”
Maka dengan ayat ini, kita meyakini firaun dan bala tentara nya itu masuk neraka setiap pagi dan petang serta ini bukanlah di hari akhirat melainkan terjadi di alam barzah. Allah mengatakan dalam Alquran : “ketika hari kiamat sudah terjadi maka telah datang hari akhirat” berarti menunjukan bahwa ‘tiap pagi dan petang tadi’ bukan terjadi di hari akhirat melainkan di alam barzah.
Maka dengan firman Allah Subhanahu wata’ala diatas menunjukan bahwa saat ini telah ada penghuni didalam neraka yaitu firaun dan tentaranya, untuk selain firaun dan bala tentaranya hanya Allah yang tahu

Adapun Surga, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wasallam berbicara tentang Ruh nya para Syuhada, yang mereka adalah burung-burung hijau yang berterbangan di surga Allah Subhanahu wata’ala. Kalau dikatakan hadits itu Surga sudah ada penghuninya, artinya sudah ada yang datang kesana.
Namun ada saatnyasemua itu ditarik kemudian mereka berada di padang mahsyar dalam kurun waktu yang hingga ratusan tahun, dan selama ratusan tahun itu juga Surga berkembang lebih baik dan terus lebih baik, serta Neraka berkembang lebih dahsyat dan terus lebih dahsyat hingga sampai masuk kepada Surga & Neraka para penghuninya semua setelah melewati padang mahsyar.
Seperti ini lah penghuni Surga & Neraka menurut Alqur’an dan Hadits, penghuni yang sekarang maupun yang akan datang.

Sumber :

FENOMENA GHULUW DALAM BERDAKWAH

Oleh Ustadz Armen halim naro, Lc

Ghuluw secara harfiah bermakna berlebihan dari kadarnya. Berkata Ibnul Manzhur, “Dia ghuluw dalam agama dan dalam suatu perkara yaitu jika dia telah melampaui batas dan kadarnya.

Dakwah adalah ladang yang sangat subur untuk menebarkan benih amal akhirat, suatu tugas yang diemban oleh para nabi dan rasul kepada kaum mereka. Disamping itu dia merupakan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dan orang-orang yang mengikuti beliau.

Akan tetapi dakwah juga merupakan ladang yang sangat rentan dari segala bentuk hama dan penyakit dakwah, sedikit saja para pekerja di ladang dakwah tersebut melakukan tindakan kesalahan, disanalah kehancurannya dan kehancuran umatnya. Apalagi dakwah bukanlah ladang yang ditaburi dengan bunga dan wangi-wangian, akan tetapi ditaburi dengan berbagai onak dan duri, bahkan tidak jarang harus mengorbankan semuanya, memeras keringat, air mata, menyisingkan lengan baju, termasuk pengorbanan darah dan jiwa.

Di antara bentuk kesalahan dalam berdakwah yang sangat berbahaya adalah ghuluw. Berkata Ibnul ayyim rahimahullah, “ Tidaklah Allah berada di antara orang yang menyia-nyiakan dan orang yang berlebihan, bagaikan suatu lembah diantara dua gunung, hidayah di antara kesesatan dan pertengahan antara sisi yang tercela. Sebagaimana orang yang lalai akan melenyapkan kesempatan, begitu juga orang yang berlebihan. Yang pertama karena kelalaiannya dan kedua karena faktor berlebihannya”.

Sesungguhnya fenomena ghuluw dalam berdakwah bukanlah datang dengan begitu saja, akan tetapi dia mempunyai bermacam-macam sebab, bisa saja sebab ilmiah,alamiah,pribadi atau sosial, dapat kita ringkas sebab-sebab diatas sebagai berikut ini:

 

  1. Tidak Ikhlas dan Mengikuti Hawa Nafsu

Ikhlas adalah induk segala amalan dan mengikuti hawa nafsu berarti telah menunggangi kendaraan syaithan, jika seorang da’i sudah tidak ikhlas dalam berdakwah dan lebih mendahulukan hawa nafsu dari kebenaran, dari sinilah sumber ghuluw dalam berdakwah, hingga dia tidak hanya merusak dirinya, tapi juga akan merusak umatnya

 

  1. Kebodohan dalam Ilmu Maqashid Syariah dan Tingkatan Masyarakat

Maqasid syariah adalah makna dan hukum yang diambil dari segala sudut pandang syariat, intinya yaitu menjaga maslahatdan mafsadah. Jika seorang da’i tidak memahami ilmu ini, maka apa yang ia rusak lebih banyak dari pada yang ia sangka dari sebuah perbaikan.

Sebuah contoh saja, seperti asal dari dakwah adalah kemudahan dan kelembutan dan bahwasanya syariat tidak bermaksud membebani dengan hal-hal yang susah dan yang payah. Tiba-tiba da’i yang ghuluw tadi mengakatakan dakwah ‘tidak ada basa-basi’, kita harus bersikap keras dan tegas, diperparah lagi oleh sebagian orang yang mempunyai semangat tapi hampa ilmu, menjadi para pendukung fanatik da’i tersebut.

 

  1. Memahami Nash atau Perkataan Ulama Secara Harfiah

Kesalahan juga sering terjadi dalam memahami nash. Seorang da’i ketika dia memperoleh sebuah hadits atau perkataan ulama, dia langsung mempraktekannya tanpa melihat nash lain atau memahaminya dengan pemahaman yang benar

Ketika misalnya ada seseorang berhubungan dengan seorang pelaku bid’ah, baik dalam urusan pribadi atau bisnis, tiba da’i tersebut mencapnya sebagai mubtadi’ (pelaku bid’ah), karena dia pernah melihat dia sebangku dengan pelaku bid’ah disebuah tempat atau pernah masuk kerumahnya. Ketika ditanyakan kepadanya, “apa dalil anda?”. Dia menjawab dengan menukil sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, “seseorang atas agama sahabatnya”.

Ketika seorang da’i duduk dikursi majelisnya, sambil memakan daging saudaranya (ghibah), ketika dia ditanyakan dengan hal tersebut, dengan santai dia menjawab, “ Ulama kita berkata: tidak ada dosa yang menggibahi pelaku bid’ah”.

 

  1. Tergesa-Gesa dalam Memperoleh Hasil

Dengan tersebarnya kemungkaran, sedikitnya pelaku kebaikan dan beratnya tekanan, serta kurangnya pengalaman, dapat membuat seorang da’i merasa putus asa dan frustasi. Maka jalan alternatifyang harus di tempuh oleh da’i tersebut adalah menerapkan sikap keras dalam berdakwah. Diantaranya dengan memberontak kepada pemerintahan yang sah atau melakukan tindakan kriminal seperti pengeboman dan perusakan tempat-tempat maksiat.

 

  1. Fanatik

Sebagian penulis mendefinisikannya sebagai salah satu sifat kelemahan dan salah satu bentuk kebodohan yang ditimpakan kepada seseorang sehingga membutakan matanya dan menutupi akalnya. Dia tidak pernah melihat kebaikan kecuali apa yang baik menurut pendapatnya dan tidak melihat kebenaran kecuali apa yang dia pakai.

 

  1. Tidak Menjaga Keadaan dan Uzur Jamaah

Agama Islam adalah agama keadilan dan kasih sayang, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat bagi alam semesta dan mengangkat semua belenggu yang telah membelenggu umat-umat terdahulu. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Sesungguhnya aku tidaklah diutus mempersulit dan bersikeras, akan tetapi dia mengutusku sebagai guru dan pembawa kemudahan”.

Diantara bentuk tidak menjaga keadaan dan uzur mereka adalah memberi beban kepada orang yang mereka tidak sanggup memikulnya. Tidak memberi keringanan ketika mereka menghadapi kesulitan serta memaafkan mereka ketika mereka melakukan kesalahan dan kealpaan.

Diantara uzur yang kadang-kadang menjatuhkan manusia dalam kesalahan adalah :

  • Uzur karena kebodohan
  • Uzur karena terpaksa
  • Uzur karena tidak mampu / tidak kuasa

Salah satu contoh dalam masalah diatas, ketika seorang da’i masuk ke rumah seorang muslim yang kebetulan statusnya menumpang rumah itu, letaklah rumah orang tuanya. Kemudian da’i tadi, melihat atau mendengar masih banyak gambar-gambar orang bergantungan di dinding atau musik dibunyikan dan maksiat semisalnya. Tanpa menanyakan sebab kenapa terjadi maksiat tersebut, da’i tadi langsung mencap bahwa muslim tadi telah membiarkan maksiat dan mungkin telah menyutujuinya.

 

  1. Memiliki Sifat Keras dan Egois yang tak Ditopang Dengan Ilmu Syari’at yang Memadai

Sebagaimana manusia berbeda dalam bentuk dan rupa, begitu juga manusia diciptakan dengan berbeda akhlak dan sifat. Diantara sifat tersebut adalah sifat keras dan egois serta merasa benar sendiri. Ketika seorang da’i telah dipengaruhi dengan berbagai pengaruh, baik pengaruh luar maupun dalam yang menunjang sifat kerasnya tersebut, maka lahirla sifat dan tindakan dengan mengatasnamakan agama yang pada hakikatnya bertentangan dengannya.

 

  1. Kesalahan dalam Berguru

Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam menanamkan cara berfikir muridnya, apalagi kecintaan terhadap guru tersebut sudah tertanam semenjak dini. Taktala seorang da’i belajar kepada seorang guru yang mempunyai penyelewengan dalam manhaj, menganut ajaran khawarij, maka sedikit banyaknya murid akan terpengaruh pemikiran gurunya, ditambah lagi murid tersebut mempunyai kecenderungan kepada pemikiran tersebut

Inilah sebagian fenomena ghuluw dalam berdakwah, sedangkan penawarnya tiada lain adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus shalih, baik dalam hal keyakinan, perkataan dan perbuatan. Belajar dengan metode yang benar dengan seorang guru yang memiliki sifat Robbani dan mau merubah sifat yang buruk dan mendahulukan kebenaran dari segalanya. Obatnya adalah tergesa-gesa dalam menuai hasil, karena kesuksesan tidaklah Allah Azza Wa Jalla nilai dengan kwalitas orang yang didakwahi, akan tetapi kesuksesan adalah istiqa,ah dalam menyerukan kebenaran sampai kematian. Wallahu A’lam

Rangkaen Kegiatan Masjid Raudhatul Jannah di Bulan Ramadhan

Assalamualaikum, kaum muslimin dan muslimat alhamdulillah masjid raudhatul jannah pekanbaru selama bulan ramdhan ini telah melakukan rangkain kegiatan diantaranya:

  • Buka Bersama
  • Sholat tarawih dan witir berjamaah
  • Saur Bersama
  • Raudhatul Jannah Ramadhan Ekspo
  • Pembagian Santunan Anak yatim
  • Itikaf
  • Kajian Rutin Ba’da subuh

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan-kegiatan di atas:

masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah masjid raudhatul jannah