Berita Terkini
Pendalaman makna surat An-Nas

Pendalaman makna surat An-Nas

Pendalaman Makna Surat An Nas (2)

✔ Kata قُلْ yang berarti perintah untuk mengatakan. Perintah ini datang dari Allah untuk dilaksanakan Rosulullah. Kata قُلْ ini sangat banyak terdapat Al Qur’an yang merupakan salah satu bukti Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan pada sekalian manusia.

مَلِكِ النَّاسِ
(Raja atau penguasa Manusia)

– Ayat ini terdiri dua kata, مَلِكِ berarti raja dan النَّاسِ berarti seluruh manusia.
✔ Ayat ini menjadi penegasan bahwa Allah adalah satu-satunya raja dalam arti penguasa mutlak terhadap seluruh manusia. Penguasaan Allah terhadap mamusia tak sekedar mutlak tapi juga mandiri dan tak memerlukan syarat. Maka jikapun seluruh manusia ingkar sebagaimana iblis, Allah tetap Raja bagi manusia. Demikian juga sebaliknya, ketaatan manusia tak menambah kekuasaan Allah.

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)
l
Sementara raja-raja dari golongan manusia, seluas apapun kekuasaannya, dia sangat tergantung pada manusia lainnya. Kekuasaannya membutuhkan banyak syarat. Seperti rakyat yang setia dan pasukan yang siap berkorban.
❎ Meyakini hanya Allah yang Raja, maka sifat-sifat raja tidak pantas dipelihara. Merasa harus paling dipatuhi. Merasa paling berpengaruh dan segala perasaan sebagai penguasa. Harus dihilangkan.
✔ Karena kita bukan raja, melainkan sekedar hamba, maka hanya keridhoanlah yang wajib dikedepankan dalam menghadapi segala kondisi dan keadaan yang menjadi takdir Allah, Raja yang menjadi penguasa mutlak diri kita dengan seluruh jalan hidupnya.

إِلَهِ النَّاسِ
(Yang diibadahi manusia)

✔ Ayat ini merupakan penegasan bahwa Allah sebagai tujuan tunggal ibadah. Hanya Allah yang diibadahi. Implementasinya adalah ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah dalam setiap beribadah.
Meniatkan semua kegiatan, meskipun itu mubah, dalam rangka mengharap ridho Allah, seperti tidur dan mencari nafkah, maka semua akan bernilai ibadah. Ada pahala sebagai balasan.
✔ Ayat ini juga menjadi dalil tujuan penciptaan kita.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.(Adz-Dzariyat 56)

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
(Dari Keburukan bisikan yang tersembunyi yaitu syetan)

– Kata مِنْ artinya dari, lalu شَرِّ berarti keburukan, kemudian الْوَسْوَاسِ bisikan dan الْخَنَّاسِ artinya tersembunyi.

✔ Kata terakhir dalam ayat ini الْخَنَّاسِ yang dimaksud adalah syetan yang selalu membisikan keburukan agar dilakukan. Karena setiap manusia didampingi satu jin bernama qorin. Jin inilah yang selalu membisikan keburukan untuk selalu dilakukan. Allah juga mengawal manusia dengan malaikat yang selalu berusaha mencegah manusia menjalankan keburukan yang dibisikan qarin.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ 
(Yang membisikan kejahatan di hati-hati manusia)

– Kata الَّذِي berarti yang, kemudian يُوَسْوِسُ membisikan, فِي di, صُدُورِ merupakan kata jamak dari صُدر artinya dada. Penggunaan kata jamak karena kata berikutnya النَّاسِ berarti manusia yang banyak.

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
(Dari golongan jin dan manusia)

– Kata مِنَ dari, الْجِنَّةِ artinya jin, disambung و dan َالنَّاسِ manusia.

✔ Ayat ini memberi tahukan bahwa inilah pasukan syetan. Ada dari kalangan jin. Ada juga dari golongan manusia. Sebagaimana dikabarkan Allah dalam Surat Al An’am 112:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). ***

✳ Taklim Ust Maududi Abdullah di Masjid RJ, Selasa 4 Safar 1439/ 24 Okt 2017.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>