Berita Terkini

ARTIKEL & KAJIAN ISLAM

Pendalaman Makna Surat Al Kafirun

Pendalaman Makna Surat Al Kafirun
➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖
Ustadz: Maududi Abdullah, Lc

Masjid Raudhatul Jannah

Selasa 24 Robiul Awal 1439/12 Desember 2017*

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾
Katakanlah: Hai orang-orang kafir
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾
Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾
Untukmu agamamu dan untukku agamaku.

1. Diawali قُلْ katakanlah, أَيُّهَا wahai, الْكَافِرُونَ orang- orang kafir.

✔ Seruan ini turun untuk orang kafir Quraisy, namun berlaku umum untuk seluruh orang kafir.
– Sebab turunnya berawal dari utusan Kaum Quraisy, setelah mereka bingung membendung meluasnya dakwah Islam. Mereka menawarkan kesepakatan jalan tengah. Yaitu, mereka mengajak Nabi dan pengikutnya bersama-sama Kaum Quraisy mengibadahi Tuhan mereka, kemudian giliran Kaum Quraisy bersama mengibadahi Allah dengan Nabi dan pengikutnya.
❎ Tawaran ini adalah jalan tengah menggabungkan kebenaran dan kebatilan. Maka hasilnya batil. Karena itu ditolak keras oleh Allah.
⚠ Ini merupakah kaidah Islam. Terlarang menggabung kebenaran dengan kebatilan. Kebenaran hanya bisa digabung dengan kebenaran. Tidak boleh tercapur dengan kebatilan, sekecil apapun.
❎ Seperti penggabungan kebaikan berupa dakwah dengan kebatilan berupa penampilan artis menyanyi sambil berjoget. Maka menjadi batil seluruhnya!

Contoh mudahnya, ada susu satu drum, lalu tercampur satu sendok kotoran manusia. Susu sebanyak itu menjadi nista. Mustahil ada yang bersedia meminumnya, kecuali bagi yang tidak tau atau tidak normal.

2. Kata لَا tidak, أَعْبُدُ aku beribadah, مَا apa-apa (yang), تَعْبُدُونَ kalian ibadahi.

– Kaum Quraisy juga mengimani Allah, tapi tak bertauhid. Mereka juga mengibadahi Latta, Uzza dan berhala-berhala lainnya. Mereka mensarikatkan Allah dengan lainnya.
– Apa yang dilakukan orang Quraisy saat ini banyak terjadi. Seperti mereka, kaum muslimin yang masih meyakini rejekinya tergantung jimat atau keselamatannya terlindungi tangkal dan sejenisnya. Ini adalah kedholiman super besar. Syirik!

3. Kata وَلَا dan tidak, أَنتُمْ kalian, عَابِدُونَ orang yang mengibadati, مَا apa-apa (yang), أَعْبُدُ aku ibadati.

– Ibadah wajib murni hanya untuk Allah. Tidak boleh tidak konsisten dan tercampir. Seperti yang direncanakan Kaum Quraisy.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ 
(Bahasa Indonesia)
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama. (Al Baiyinnah 5)

4.Kata وَلَا dan tidak, أَنَا aku, عَابِدٌ orang yang mengibadati, مَّا apa-apa (yang),عَبَدتُّمْ kalian ibadati.

5. Pengulangan kata وَلَا, lalu أَنتُمْ kalian, عَابِدُونَ orang-orang yang mengibadati, مَا apa-apa (yang), أَعْبُدُ aku ibadati.

6. Kata لَكُمْ bagi kalian, دِينُكُمْ agama kalian, وَلِيَ dan untuku, دِينِ agamaku.

↔ Inilah prinsip Islam. Berlepas diri atau baro’ dari seluruh kebatilan. Juga waro’ atau loyalitas. Berpegang teguh pada keyakinan. Tanpa ragu sedikit pun!

Note:

✔ Pengulangan sejumlah kosa kata dalam surat ini menjadi indikasi sangat pentingnya masalah yang dibicarakan. Memang surat ini membicarakan fundamental dalam Islam. Menjaga tauhid, menolak kekafiran dan kemusyrikan.
↔ Surat ini menegaskan larangan keras mencampurkan ibadah. Harus murni semata mengibadahi Allah. Orang kafir pun tak perlu mengibadahi Allah.
✔ Surat ini oleh sebagian mufasyirin disebut juga dengan nama Al Iklas 2. Qulhuwallahu ahad sebagai Al Iklas 1.
✔ Kedua surat ini berisi dua syarat dasar tauhid:
1. Beribadah hanya kepada Allah.
2. Tidak beribadah kepada selain Allah.
Tanpa kedua syarat di atas, maka tidak sah keimanan. Tauhidnya cacat.*
➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖

Cara Dicintai Allah dan Disayangi Manusia

Cara Dicintai Allah dan Disayangi Manusia
➖➖➖➖➖➖➖➖

Kajian Rutin:
Ustadz: Abdurrahman Keken, Lc
Masjid Raudhatul Jannah
Selasa 25 Robiul Awal 1439/12 Desember 2017.

✔ Nabi Muhammad sholallohu alaihi wassalam memberi kiat jitu. Cara meraih cinta Allah dan disayangi manusia.

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، دُلَّنِيْ عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْـتُـهُ أَحَبَّنِيَ اللَّهُ، وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ. فَقَالَ: “اِزْهَدْ فِيْ الدُّنْـيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ.” رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَهُ وَسَنَدُهُ حَسَنٌ.

Dari Sahl bin Sa’ad Radiyallahu anhu ia berkata: Seorang sahabat menemui Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang jika aku lakukan, aku akan dicintai oleh Allah dan manusia.” Beliau bersabda: “Zuhudlah dari dunia, niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah dari apa yang ada pada manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad yang hasan).

↔ Ibnu Taimiyah memberi definisi zuhud:
– Meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi kita di akhirat.
– Meninggalkan apapun yang melaikan kita dari akhirat.

✔ Hadist ini memberikan sejumlah pelajaran.
1. Allah punya cinta.
– Kecintaan Allah bisa pada tempat, seperti masjid, bisa pada amalan, seperti sholat di awal waktu. Cinta Allah juga bisa pada manusia, seperti mereka yang zuhud dari dunia, sebagaimana diajar Nabi dalam hadist di atas.
2. Cinta Allah harus diusahakan
– Mengharapkan cinta Allah tidak bisa pasif. Sekedar menunggu. Tapi harus diusahakan.
3. Boleh mengharapkan cinta manusia.
– Tidak dilarang mengharapkan dan mengusahakan mendapat cinta manusia, selagi caranya tidak bertetangan dengan srariat. Rosul mengajarkan cara meraih cinta manusia dengan zuhud atau tidak menginginkan apa yang ada di tangan orang lain.

✔ Selain zuhud pada dunia, ada sejumlah amal yang juga bisa menjadi jalan meraih cinta Allah. Seperti disampaikan Nabi dalam hadist berikut ini:
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِيْ وَقَّاصٍ رضي الله عنه قاَلَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: “إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الخَفِيَّ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radiyallahu anhu ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertaqwa, yang merasa cukup, dan yang rajin beribadah secara diam-diam.” (HR. Muslim).

↔ Mereka adalah orang-orang yang bertakwa. Tak sekedar iman, tapi juga mentaati perintah Allah dan meninggalkan larangannya.
– Kedua, orang kaya dalam artian merasa cukup dengan yang Allah bagikan kepadanya.
– Ketiga, mereka yang ketaatannya tersembunyi. Ibadahnya hanya ingin diketahui Allah. Sikap ini tidak berlaku untuk ibadah-ibadah wajib, seperti sholat berjamaah bagi pria, zakat dan haji. Ibadah jenis itu mustahil disembunyikan.*

|KITAB MINHAJUL MUSLIMIN|Adab anak kepada orangtuanya

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kajian rutin Senin Malam,
Senin 23 Rabi’ul Awal 1439 H / 11 Desember 2017. ⏰ Waktu ba’da Maghrib – selesai.
Bersama Ustadz Asror Habibi, Lc حفظه الله تعلى
Tempat : Masjid Raudhatul Jannah.

✒ Materi : Pembahasan “Kitab Minhajul Muslim”

Bab : Adab Anak kepada Orantuanya.

Dalam kitab ini, khusuanya bab ini menceritakan tentang begitu mulianya kedudukan orangtua terlebih lagi seorang ibu. Banyak ayat-ayat dan hadits yang mewajibkan kepada seorang anak harus berbakti kepada kedua orangtuanya. Bahkan banyak pula dalam ayat-ayat yang mewajibkan kita memenuhi kewajiban atau Hak-hak Allah Ta’ala (Tauhid atau beribadah semata-mata kepada Allah Ta’ala dan tidak mensyirikan dengan sesuatu apapun) setelahnya dinggandengkan hak yang harus dipenuhi adalah haknya atau berbakti kepada kedua orangtua.

Mengenai wajibnya seorang anak berbakti kepada orang tua, Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam Qur’an :

QS. An-Nisa ayat : 36.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak..” [ An-Nisa : 36]

QS Al-Isra’ ayat : 23-24.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [ Al-Isra : 23]

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil” [ Al-Isra : 24]

Juga terdapat dalam QS. Luqman ayat : 14-15.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali” [ QS. Luqman AYAT : 14]

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik dan ikuti jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu maka Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu kerjakan” [ QS. Luqman ayat : 15]

Berbakti dan taat kepada orang tua terbatas pada perkara yang ma’ruf. Adapun apabila orang tua menyuruh kepada kekafiran, maka tidak boleh taat kepada keduanya. Allah Ta’ala berfirman.

QS. Al-Ankabut ayat : 8

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

“Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya..” [ QS. Al-Ankabut ayat : 8]

Selain kewajiban memenihu hak kedua orantua tadi karena langsung perintah Allah Ta’ala ada perintah tuk berbakti kepada kedua orangtua itu dikarenakan jasa atau jerih payah kedua orangtua tersebut. Seperti jerih payah dan kesusahan ketika seorang ibu melahirkan..menyusui anaknya, perjuangan membesarkan dan sebagainya. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat dan hadits di atas.

Tidak ada suatu kebaikan yangvlebih mulia dan lebih utama selain perintah atau kebaikan yang digandeng Allah Ta’ala dengan perintah akan hak Allah Ta’ala. Dan tidak ada pula suatu keburukan yang lebih buruk dampak dan besar dosanya selain peebuatan yang digandeng Allah Ta’ala dengan perintah larangan-Nya. Tak hanya itu, berbakti kepada kedua orangtua tersebut lebih tinggi dan lebih utama nilainya dan kedudukannya dibanding dengan amalan jihad fisabilillah. Sebagaimana

Hadits diriwayatkan Abdullâh bin `Amr ra :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

“Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullâh, lalu dia minta idzin ikut berjihad. Rasulullâh bertanya: ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Lelaki itu menjawab, “Ya.” Rasulallâh bersabda, “Berjihadlah di sisi keduanya!”

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ibnu Majah, dikatakan bawa seorang lelaki datang kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam, lalu berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّى جِئْتُ أُرِيدُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِى وَجْهَ الله وَالدَّارَ الآخِرَةَ وَلَقَدْ أَتَيْتُ وَإِنَّ وَالِدَىَّ لَيَبْكِيَانِ. قَالَ : فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya datang ingin berjihad bersamamu, mencari wajah Allah dan (surga) di kehidupan akhirat, dan sesungguhnya kedua orangtua saya benar-benar menangis. Beliau Rasulullah SAW menjawab: “Kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka berdua tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.”

Bagi seorang muslim haruslah mengerti dan memahami adab-adab berbakti kepada kedua orangtuanya, yaitu :

Hendaklah seorang anak taat terhadap apa-apa yang diperintahkan orangtuanya kepadanya. Tapi bukanlah ketaat kepada kemungkaran atau kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Jika orangtua menuyuruh melakukan itu maka kita diperintahkan untuk mentaatinya. Meski demikian Allah Ta’ala tetap memeeintahkan kepada kita untuk tetap berbuat baik dan berlemah lembut kepada orangtua tadi.

Selalu memuliakan kedua orangtuanya. Baik dengan ucapan dan perbuatan. Tidak boleh meninggikan suaranya di hadapan kedua orangtuny, mengahardik, membantah atau berlaku dan tidak boleh menampakkan kelebihan pemberian (hadiah dan semisalnya) kepada istri dan anak-anak kita sementara orangtua hanya diberi sekedarnya saja. Kemudian tidak dibenarkan kita memanggil mereka dengan namanya saja. Di sisi lain, ucapkanlah ucapan-ucapan yang baik yang disenangi dan ucapan penuh harapan. Ini merupakan bentuk berbakti dan kemuliaan kepada kedua orangtua kita.

Begitu utama dan mulianya nilai amalan berbakti kepada kedua orantua itu, sampai-sampai Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam berwasiat mewasiatkan hal tersebut kepada sahabat yang mulia Abu Darda’ ra dalam sebuah hadits :
HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18

Abu Darda’ berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan sembilan perkara kepadaku yaitu:

1- Janganlah engkau mempersekutukan Allah meskipun lehermu akan dipenggal atau dirimu akan dibakar.
2- Jangan sekali-kali meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, (karena) barangsiapa yang melakukannya dengan sengaja, niscaya jaminan Allah akan terlepas darinya.
3- Jangan meminum minuman keras, karena itu adalah kunci segala kejelekan.
4- Dan taatilah kedua orang tuamu, apabila mereka menyuruhmu untuk menyerahkan seluruh harta yang engkau miliki maka serahkanlah hartamu kepada keduanya.
5- Janganlah menentang pemimpin walaupun engkau tahu bahwa engkaulah yang benar.
6- Jangan lari dari medan pertempuran, meskipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu melarikan diri.
7- Infakkanlah sebagian harta yang engkau miliki kepada keluargamu.
8- Jangan lalai mengawasi keluargamu (dalam mendidik mereka)
9- Dan ajarkanlah kepada mereka untuk bertakwa kepada Allah.” ( HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18)

Perbanyak perbuatan dan cara yang membuat lapang hidup mereka. Misalnya menyediakan makan-malanan

Menyambung silaturahim dengan karib kerabat mereka(adik kakak orangtua kita), senantiasa mendo’akan mereka dan meminta ampunkan dosa mereka, menuaikan janji-janji mereka dan memuliakan sahabat-sahabat orangtua kita.

Berbakti Kepada Orang Tua Dapat Menghilangkan Kesulitan Yang Sedang Dialami
Yaitu, dengan cara bertawassul dengan amal shalih tersebut. Dalilnya adalah hadits riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, dan salah seorangnya bertawassul dengan bakti kepada ibu bapaknya.

Berbakti Kepada Orang Tua Dapat Menghilangkan Kesulitan Yang Sedang Dialami
Yaitu, dengan cara bertawassul dengan amal shalih tersebut. Dalilnya adalah hadits riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, dan salah seorangnya bertawassul dengan bakti kepada ibu bapaknya.

Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2272), Fathul Baari (IV/449), Muslim (no. 2743), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.

Haditsnya sebagai berikut:

انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيْتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوْهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهَا الْغَارَ. فَقَالُوْا : إِنَّهُ لاَيُنْجِيْكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوْا اللهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اَللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَكُنْتُ أَغْبِقُ قَبْلَ هُمَا أَهْلاً وَ لاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْئٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَ فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوْقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ. فَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْمَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هَذِه الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا

“ …Pada suatu hari tiga orang dari ummat sebelum kalian sedang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka berada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi mulut gua. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.’ Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu di antara mereka berkata: ‘Ya Allah, sesung-guhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai isteri dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang sudah larut malam dan aku dapati orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah mulut gua ini.’ Maka batu yang menutupi pintu gua itu pun bergeser sedikit..”

Alhamdulillah kajianpun selesai. Semoga bermanfaat dan memberikan faeda

➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖
Ingin ikut andil dalam menyebarkan dakwah Islam ?

Share Tulisan ini
dan Ikuti Akun sosial Media Erje Media.

▶ Subscribe channel Youtube Erje.TV
~~~~
▶ https://www.youtube.com/c/erjetv/

Like Facebook Fanspage Erje.TV
~~* *~~

https://www.facebook.com/erjemedia/

Follow Instagram Erje.TV
~~~~

https://www.instagram.com/erjetv/

Semoga menjadi Amal jariah untuk anda.

جزاكم الله خيرا

بارك الله فيك

Larangan Sholat di Kuburan atau Menghadap Kuburan

Larangan Sholat di Kuburan atau Menghadap Kuburan
〰〰〰〰〰〰〰〰
Taklim Kitab
Qoulul Mubin fi Akhthoil Musholin
Karya Syekh :
Masyhur Hasan Salman
Masjid Raudhatul Jannah
Ustadz : Zamzami Juned, Lc,
Ahad 23 Robiul Awal 1439/ 11 Desember 2017.

➖➖➖➖➖➖➖➖
Sesungguhnya seluruh permukaan bumi adalah suci dan bisa dijadikan tempat sujud, kecuali dua tempat. Yakni kuburan dan kamar mandi.

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

Bumi seluruhnya adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi. [HR. Ahmad (XVIII/312 no. 11788)

لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا

Janganlah duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadapnya. [Muslim (II/668 no. 972)

Hadist mengenai larangan mendirikan sholat di kuburan atau menghadap kuburan atau di tempat-tempat yang ada kuburannya masih banyak. Larangan ini sebagai bagian dari menolak mengikuti kebiasaan orang-orang Yahudi. Mereka suka menjadikan makam nabi dan pemuka agamanya sebagai tempat ibadah.

قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ؛ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Semoga Allâh membinasakan kaum Yahudi. Mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid. [HR. Bukhari (I/531 no. 437) dan Muslim (I/376 no. 530)

Nabi Muhammad bahkan selalu berdoa agar makamnya tidak dijadikan tempat ibadah.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Ya Allâh, janganlah Engkau jadikan kuburanku berhala yang disembah. Allâh sangat murka kepada kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka masjid [16]

Lantas bagaimana dengan kondisi sekarang, di mana makam Nabi Muhammad sekarang berada dalam Masjid Nabawi? Kondisi ini tidak bisa dijadikan dalil bolehnya ada makam di dalam masjid, karena kondisi ini adalah kesalahan yang tidak disepakati para tabi’in ketika keputusan tersebut dilakukan penguasa.

Adalah Khalifah Al Walid Ibnu Abdul Malik, penguasa yang melakukan pelebaran besar-besaran Masjid Nabawi dan memutuskan memasukan makam Nabi dalam komplek masjid pada tahun 94 Hijriyah. Keputusan tersebut ditolak para tabi’in, seperti Said bin Al Musyayyib.

Harus jadi patokan, awalnya makam Nabi berada di luar masjid, di dalam kamar, di dalam rumah Nabi. Adalah ketentuan syariat, setiap nabi dimakamkan di mana diwafatkan. Itu jugalah yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad saat meninggal di pangkuan Aisya, maka dimakamkan di sana.

⚠ Sholat di Masjid Nabawi tetap dibolehkan meskipun di dalamnya ada makam Nabi, Abu Bakar dan Umar, karena masjid tersebut memiliki kekhususan dan kemuliaan, yakni 1000 kali dibandingkan masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.

↔Kaidahnya, menurut Ibnu Taimiyah, sholat di waktu-waktu terlarang tetap boleh jika ada alasannya. Misalnya, seseorang masuk masjid selepas Ashar, dia tetap boleh mengerjakan sholat sunnah. Demikian juga dengan sholat di Masjid Nabawi, boleh karena ada kekhususan tempat tersebut. Sementara larangan sholat di masjid yang ada kuburannya selain Masjid Nabawi bersifat mutlak.

❎ Maka setiap muslim harus menghindari sholat di kuburan atau di tempat-tempat yang ada makam atau kuburan di dalamnya, terutama yang posisi kuburannya berada di arah kiblat. Hukumnya haram dan bisa menjadi sebab sholat tidak sah karenanya.*

➖➖➖➖▪▪➖➖➖➖
Ingin ikut andil dalam menyebarkan dakwah Islam ?

Share Tulisan ini
dan Ikuti Akun sosial Media Erje Media.

▶ Subscribe channel Youtube Erje.TV
~~~~
▶ https://www.youtube.com/c/erjetv/

Like Facebook Fanspage Erje.TV
~~* *~~

https://www.facebook.com/erjemedia/

Follow Instagram Erje.TV
~~~~

https://www.instagram.com/erjetv/

Semoga menjadi Amal jariah untuk anda.

جزاكم الله خيرا

بارك الله فيك

Hidayah Harus Diminta dan Diperjuangkan

Taklim Ustadz Abu Ahmad Fairuz Ridwan, MA di Masjid RJ, Ahad 22 Robiul Awal 1439/ 11 Des 2017

Hidayah Harus Diminta dan Diperjuangkan

✔ Kesempurnaan hidayah adalah gabungan dari ilmu yang benar dengan amal yang sholeh.
– Ada kelompok yang Allah amanahkan ilmu padanya. Benar kadar ilmunya, namun ia tidak mengamalkan kebenaran ilmu yang dimilikinya. Maka, mereka ini sudah mendapat hidayah, tapi belum sempurna. Mereka ini seperti kaum Yahudi.
– Kelompok lain adalah mereka yang sangat rajin beribadah, tetapi salah dalam bentuk dan cara melakukannya. Mereka beribadah tanpa dasar wahyu. Tanpa ilmu. Mereka ini sudah dapat hidayah tapi belum lengkap. Mereka ini seperti kaum Nasrani.

Hidayah Harus Diperjuangkan

– Kebutuhan manusia terhadap hidayah Allah sangat mutlak. Tanpa hidayah maka hidup binasa. Karena itu, hidayah harus diperjuangkan. Diminta pada Allah dengan penuh harap dan diusahakan dengan sungguh-sungguh. Seperti yang berulang kali kita minta pada Allah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}

“Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.

Jenis Hidayah

1. Hidayah Umum

Hidayah ini diberikan Allah kepada seluruh mahluk. Diberikan sebagai naluriyah menjalani hidup. Hidayah untuk bekerja dan lain sebagainya.

{قَال َرَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى}

“Musa berkata: “Rabb kami (Allah Ta’ala) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS Thaahaa: 50).

2. Hidayah Taufik

Hidayah ini mutlak milik Allah dan hanya diberikan kepada mereka yang Allah kehendaki.

فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ}

“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir: 8).

– Karena hidayah taufik mutlak milik Allah, maka Nabi Muhammad pun tak mampu memberikannya pada pamannya Abu Tholib. Demikian juga Nabi Nuh dan Nabi Luth yang tak berdaya menghalangi istri dan anaknya mengingkari Allah.

3. Hidayah Al Bayan

Hidayah ini milik para nabi untuk menyeru manusia menuju ridho Allah.
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).

Tingkatan hidayah.

1. Hidayah Islam

– Banyak manusia Allah pilih mendapat hidayah masuk Islam, namun belum baik atau belum sempurna menjalankan syariat.

2. Hidayah Sunnah

– Di atas hidayah Islam adalah hidayah sunnah. Pemberian Allah pada mereka yang dikehemdaki sangat mencintai Sunnah Nabi dan mengamalkannya.
Hidayah sunnah ini bukan tergantung ilmu. Justru ada keadaan di mana ilmu menjadi penghalang hidayah sunnah.

3. Surga sebagai Puncak Hidayah

– Surga adalah muara dari keridhoan Allah. Mustahil ada manusia masuk ke dalamnya sebelum mendapat ridho Allah. Karena itu, inilah puncak dari hidayah yang Allah berikan pada seorang hamba.

Allah Ta’ala berfirman tentang ucapan penghuni Surga:

{وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ}

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga) kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami” (QS al-A’raaf: 43).*

ERJE MEDIA

Said bin Jubair, Tabi’in Rela Mati di Tangan Penguasa Dholim Demi Akidah

Taklim Ust Syamsurijal, Lc di Masjid RJ, Jumat 20 Robiul Awal 1439/ 8 Desember 2017

 

Said bin Jubair, Tabi’in Rela Mati di Tangan Penguasa Dholim Demi Akidah

Kekejaman Hajjad bin Yusuf ats-Syaqafi saat menjadi khalifah adalah sejarah kelam di masa kejayaan Islam di era generasi tabi’in.Belasan ribu umat Islam dibunuh tanpa alasan. Banyak di antara mereka yang rela terpenggal lehernya demi mempertahankan keimanan.

Salah seorang di antaranya adalah ulama besar, murid sahabat mulia Ibnu Abbas, Abu Said Al Kudri dan Umul Mukminin Aisya. Dia adalah Said bin Jubair. Tabi’in mulia dari golongan bangsa kulit hitam. Said bin Jubair sempat bertahun-tahun menjadi buronan pasukan Hajjad bin Yusuf. Perburuan terhadap Said bin Jubair bermula dari bergabungnya dia dengan pasukan panglimanya Hajjad bin Yusuf yang bernama Abdurrahman bin Asy’ats yang melakukan pemberontakan karena tak tahan lagi pada kedholiman dan kekejaman Hajjad. Tidak hanya Said bin Jubair yang bergabung, tapi juga banyak tabi’in mulia yang bersama Abdurrahman berperang melawan Hajjad.

Semula, pasukan ini meraih banyak kemenangan. Mampu menguwasai sejumlah kota dan kawasan, namun pada akhirnya keadaan berbalik. Pasukan Hajjad semakin perkasa dan berhasil menumpas perlawanan Abdurrahman. Pasukan Abdurrahman kocar-kacir. Banyak yang melarikan diri, sementara sisanya menyerahkan diri atau ditangkap pasukan Hajjad. Termasuklah yang melarikan diri adalah Said bin Jubair. Ia bersembunyi di sebuah desa kecil dekat Mekkah sambil melanjutkan mengajarkan Kitabullah dan Hadist Nabi.

Terhadap mereka yang menyerahkan diri atau ditangkap, Hajjad memberikan jalan keselamatan dengan mengaku kafir karena telah melawan kekuasaannya. Sementara bagi yang menolak mengakui kafir, langsung dipenggal lehernya. Sejak itulah tangan dan seluruh tubuh Hajjad berlumur darah belasan ribu kaum muslimin yang teguh memegang akidahnya. Kekejaman Hajjad tidak berlangsung sehari atau sepekan atau sebulan, melainkan bertahun-tahun. Bahkan, tetap berlangsung setelah sepuluh tahun, ketika Said bin Jubair tertangkap di tempat persembunyian dan diseret ke hadapan Hajjad.

Sebenarnya, sebelum tertangkap, para murid Said bin Jubair sudah menasehati agar ia melarikan diri karena sudah datang pasukan Hajjad ke Mekkah, namun Said menolak karena sudah merasa malu pada Allah terus bersembunyi. Ia sudah siap menghadapi apaoun takdir Allah kepadanya. Hajjad bukan kepalang gembiranya mendapati Said Jubair terikat di tiang tanpa daya. Mepadanya lantas ditanya apakah bersedia mengakui kafir karena melawan kekuasaannya. Said bin Jubair tegas menolak. Keputusannya mempercepat proses hukuman.

Hajjad memerintahkan algojo memenggal leher Said bin Jubair. Sa’id: (Menghadap kiblat sambil membaca firman Allah Ta’ala): “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al-An’am: 79) Hajjaj: “Palingkan ia dari kiblat!” Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala) “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 115) Hajjaj: “Sungkurkan dia ke tanah!” Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala) “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55) Hajjaj: “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti dia.” Sa’id: (Mengangkat kedua tangannya sambil berdoa), “Ya Allah jangan lagi Kau beri kesemaptan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

Tak lebih dari lima belas hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair, mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya silih berganti antara pingsan dan siuman. Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-sebentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau: “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkamku! Ini Sa’id bin Jubair berkata: “Mengapa engkau membunuhku?” Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri: “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair? Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!” Kondisi nestapa itu terus dialami Hajjad sampai ajalnya dijemput Allah.*

Pendalaman makna surat An-Nas

Pendalaman Makna Surat An Nas (2)

✔ Kata قُلْ yang berarti perintah untuk mengatakan. Perintah ini datang dari Allah untuk dilaksanakan Rosulullah. Kata قُلْ ini sangat banyak terdapat Al Qur’an yang merupakan salah satu bukti Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan pada sekalian manusia.

مَلِكِ النَّاسِ
(Raja atau penguasa Manusia)

– Ayat ini terdiri dua kata, مَلِكِ berarti raja dan النَّاسِ berarti seluruh manusia.
✔ Ayat ini menjadi penegasan bahwa Allah adalah satu-satunya raja dalam arti penguasa mutlak terhadap seluruh manusia. Penguasaan Allah terhadap mamusia tak sekedar mutlak tapi juga mandiri dan tak memerlukan syarat. Maka jikapun seluruh manusia ingkar sebagaimana iblis, Allah tetap Raja bagi manusia. Demikian juga sebaliknya, ketaatan manusia tak menambah kekuasaan Allah.

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)
l
Sementara raja-raja dari golongan manusia, seluas apapun kekuasaannya, dia sangat tergantung pada manusia lainnya. Kekuasaannya membutuhkan banyak syarat. Seperti rakyat yang setia dan pasukan yang siap berkorban.
❎ Meyakini hanya Allah yang Raja, maka sifat-sifat raja tidak pantas dipelihara. Merasa harus paling dipatuhi. Merasa paling berpengaruh dan segala perasaan sebagai penguasa. Harus dihilangkan.
✔ Karena kita bukan raja, melainkan sekedar hamba, maka hanya keridhoanlah yang wajib dikedepankan dalam menghadapi segala kondisi dan keadaan yang menjadi takdir Allah, Raja yang menjadi penguasa mutlak diri kita dengan seluruh jalan hidupnya.

إِلَهِ النَّاسِ
(Yang diibadahi manusia)

✔ Ayat ini merupakan penegasan bahwa Allah sebagai tujuan tunggal ibadah. Hanya Allah yang diibadahi. Implementasinya adalah ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah dalam setiap beribadah.
Meniatkan semua kegiatan, meskipun itu mubah, dalam rangka mengharap ridho Allah, seperti tidur dan mencari nafkah, maka semua akan bernilai ibadah. Ada pahala sebagai balasan.
✔ Ayat ini juga menjadi dalil tujuan penciptaan kita.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.(Adz-Dzariyat 56)

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
(Dari Keburukan bisikan yang tersembunyi yaitu syetan)

– Kata مِنْ artinya dari, lalu شَرِّ berarti keburukan, kemudian الْوَسْوَاسِ bisikan dan الْخَنَّاسِ artinya tersembunyi.

✔ Kata terakhir dalam ayat ini الْخَنَّاسِ yang dimaksud adalah syetan yang selalu membisikan keburukan agar dilakukan. Karena setiap manusia didampingi satu jin bernama qorin. Jin inilah yang selalu membisikan keburukan untuk selalu dilakukan. Allah juga mengawal manusia dengan malaikat yang selalu berusaha mencegah manusia menjalankan keburukan yang dibisikan qarin.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ 
(Yang membisikan kejahatan di hati-hati manusia)

– Kata الَّذِي berarti yang, kemudian يُوَسْوِسُ membisikan, فِي di, صُدُورِ merupakan kata jamak dari صُدر artinya dada. Penggunaan kata jamak karena kata berikutnya النَّاسِ berarti manusia yang banyak.

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
(Dari golongan jin dan manusia)

– Kata مِنَ dari, الْجِنَّةِ artinya jin, disambung و dan َالنَّاسِ manusia.

✔ Ayat ini memberi tahukan bahwa inilah pasukan syetan. Ada dari kalangan jin. Ada juga dari golongan manusia. Sebagaimana dikabarkan Allah dalam Surat Al An’am 112:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). ***

✳ Taklim Ust Maududi Abdullah di Masjid RJ, Selasa 4 Safar 1439/ 24 Okt 2017.

DAUROH UMUM

Hadirilah..! InsyaAlloh Diadakan Dauroh Umum
Di Masjid RAUDHATUL JANNAH
14 Rabi’ul Awwal 1439 H / 03 Desember 2017.
⏰ Waktu: 09.00 Pagi WIB s/d selesai
HADIAH UNTUKMU YANG SELALU TERABAIKAN
Bersama Ustadz ZAMZAMI JUNED, Lc.حفظه الله تعلى

brosur terbaru cy

APAKAH SURGA DAN NERAKA ITU SUDAH ADA PENGHUNINYA ATAU BELUM

APAKAH SURGA DAN NERAKA ITU SUDAH ADA PENGHUNINYA ATAU BELUM

Sebelum menjawab hal itu maka poin yang paling penting dahulu yaitu Surga & Neraka itu sudah ada sekarang. Jadi bukanlah sesuatu yang diciptakan Allah Subhanahu wata’ala nanti.
Oleh karena itu ketika Allah berbicara surga dan neraka di dalam Alqur’an, Allah Subhanahu wata’ala sering mengatakan “U’iddats(Telah disiapkan/disediakan)”. Berarti Surga & Neraka telah ada dan sudah disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.
Dan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wasallam juga pernah melihat Surga & Neraka. Juga bukti bahwa surga & Neraka sudah ada dan telah disiapkan.

Lalu pertanyaannya apakah sudah ada penghuninya ?. Dalam Alquran Surat Ghafir Ayat ke 46 : Allah berfirman “Neraka dimana firaun dan bala tentaranya dimasukkan kedalamnya di setiap pagi dan petang, dan pada hari kiamat terjadi, Allah akan berkata, masukkan firaun dan tentara kepada adzab yang lebih pedih”
Maka dengan ayat ini, kita meyakini firaun dan bala tentara nya itu masuk neraka setiap pagi dan petang serta ini bukanlah di hari akhirat melainkan terjadi di alam barzah. Allah mengatakan dalam Alquran : “ketika hari kiamat sudah terjadi maka telah datang hari akhirat” berarti menunjukan bahwa ‘tiap pagi dan petang tadi’ bukan terjadi di hari akhirat melainkan di alam barzah.
Maka dengan firman Allah Subhanahu wata’ala diatas menunjukan bahwa saat ini telah ada penghuni didalam neraka yaitu firaun dan tentaranya, untuk selain firaun dan bala tentaranya hanya Allah yang tahu

Adapun Surga, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wasallam berbicara tentang Ruh nya para Syuhada, yang mereka adalah burung-burung hijau yang berterbangan di surga Allah Subhanahu wata’ala. Kalau dikatakan hadits itu Surga sudah ada penghuninya, artinya sudah ada yang datang kesana.
Namun ada saatnyasemua itu ditarik kemudian mereka berada di padang mahsyar dalam kurun waktu yang hingga ratusan tahun, dan selama ratusan tahun itu juga Surga berkembang lebih baik dan terus lebih baik, serta Neraka berkembang lebih dahsyat dan terus lebih dahsyat hingga sampai masuk kepada Surga & Neraka para penghuninya semua setelah melewati padang mahsyar.
Seperti ini lah penghuni Surga & Neraka menurut Alqur’an dan Hadits, penghuni yang sekarang maupun yang akan datang.

Sumber :

Grup Whatsapp Masjid Raudhatul Jannah

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah telah tersedia grup whatsapp Masjid Raudhatul Jannah yang InsyaAllah grup tersebut berfungsi sebagai informasi seputar Masjid Raudhatul Jannah, Info Kajian, Info Live Streaming, dll.
Bagi yang ingin bergabung silahkan isi Formulir :
Nama :
Alamat :
Usia :
Jenis Kelamin :
Silahkan kirim melalui Whatsapp ke nomor 0811-753-6666

Atau Silahkan Klik Link / Gambar Dibawah ini